Relawan Millenial: Menangkal Petaka di Dunia Maya

Dunia maya menjadi ruang yang tak kalah penting dengan dunia nyata. Tempat baru ini urgen disorot publik untuk menjadikannya sebagai sosial cyber space yang sehat, mendidik, dan mencerdaskan. Generasi millennial penting terlibat.

Berdasarkan survey APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143, 26 juta dari populasi penduduk Indonesia saat ini 262 juta. Rata-rata lama mengakses internet setiap hari berkisar 1-7 jam. Data ini memperlihatkan jagat online sebagai epicentrum baru tak bisa dipunggungi.

Fakta data lain dari APJII juga menunjukkan pengguna internet berdasarkan usia didominasi kalangan millenial. Artinya millenial menjadi populasi pengguna internet terbanyak di Indonesia. Disisi lain, kelompok ini yang paling rentan terpapar faham radikal. Sehingga perlu memaksimalkan peluang terlibat sebagai relawan penebar perdamaian di dunia maya. Akan menjadi kekuatan. Sebagai motor penggerak perdamaian cyber space.

Untuk meminimalisir doktrinitas paham radikal, Kementerian Komunikasi dan Informatika meningkatkan pemblokiran konten radikal. Hal ini sebagai upaya menangkal konten dan situs yang mempromosikan radikalisme di internet. Kementerian telah memblokir 230 situs radikal dari bulan januari sampai oktober 2018, dan menghapus lebih dari 6.000 konten radikalisme di berbagai platform.

Kementerian menggunakan mesin algoritma penyaring konten bernama Ais untuk men-screening konten radikal di internet. Namun bukan tanpa perlawanan. Kelompok-kelompok radikal-teroris juga terus berupaya menghindar dari sistem penjaring konten dengan cara mengaburkan pembicaraan. Misalnya mengubah penyebutan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) menjadi 1515 agar tak terbaca mesin pendeteksi.

Tak hanya itu, berdasarkan temuan Institute for Policy Analysis of Conflict, kelompok tersebut juga menyebarkan konten radikal, seperti video atau transkrip ceramah pentolan ISIS, memakai sistem pengunggahan berlapis.

Berkas tersebut diunggah ke situs penyimpanan data dalam bentuk PDF. Tautannya lalu dibagikan ke berbagai group di aplikasi messenger. Cara ini menyulitkan mesin Ais untuk mendeteksinya.

Berkaca dari fakta tersebut, upaya dari pemerintah saja tentu tidaklah cukup, gerakan civil society juga dibutuhkan. Terutama relawan millenial sebagai penggerak dan penggalak perdamaian di dunia maya. Tak hanya menunggu inisiasi dari pemerintah melainkan mulai dari diri pribadi, keluarga, komunitas dan lainnya. Self-awareness. Karena mengcounter konten radikal adalah tanggungjawab bersama. Masyarakat dan pemerintah. Jika keduanya kuat, bangsa pun akan kokoh dari segala ancaman faham radikal extremism.

Persoalan paham radikal di internet juga diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius kepada tempo edisi 1 desember 2018. Menurut BNPT 61,23 persen responden mencari konten keagamaan di media sosial bukan lewat pertemuan tatap muka. Kondisi ini dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk menyusupkan faham radikal dalam konten agama yang mereka sebar.

Maka generasi millennial sebagai penerus cita-cita luhur bangsa penting terus terlibat secara konsisten. Massif menebar perdamaian di jagad online yang menjadi media interaksi, komunikasi, pencarian informasi serta berbagi pengetahuan. Guna menangkal petaka dunia maya: konten paham radikal, intoleransi, hoax, dan ujaran kebencian.

Generasi millennial adalah harapan nusantara kedepan. Penentu wajah Indonesia mendatang. Sehingga daripada menjadi korban doktrinasi tanpa sadar, mending menjadi relawan secara sadar. Menebar tebarkan konten damai di seantero jagad maya.

 

 

 

 

 

 

 

 

rohaniintadewi

a wife|long life learner|Sasak-Lombok

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *