Memprakarsai Guru Berkarakter Anti-Radikalisme

Pendidikan dan pengajaran dengan gagasan kurikulum anti-radikalisme tidak menjamin radikalisme menjauh dari ruang kelas. Di dunia pendidikan, paham kekerasan menyusup dan masuk secara perlahan tapi pasti dengan tak mudah terdeteksi. Biasanya Melalui hidden curriculum (kurikulum tersembunyi/terselubung) dengan dibumbui racikan paham kekerasan yang disisipkan dalam kegiatan ekstra kulikuler. Yang seringkali luput dari perhatian dan pengawasan.

Hal ini tentu mengkhawatirkan dan menjadi warning. Dimana pendidikan dipercaya sebagai ruang untuk menempa anak didik menjadi lebih baik, toleran, menghargai perbedaan, dan meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air ternyata menjadi target menyebarkan paham-paham kekerasan oleh para radikalis-teroris berkedok memberikan pembinaan. Peran guru yang memiliki cara pandang anti kekerasan sangat dibutuhkan dalam menghalau anak didik terpapar virus radikalisme.

Guru harus Berperspektif Anti-Radikalisme

Guru memiliki ruang perjumpaan lebih banyak dengan para siswa. Sehingga bisa dengan cepat dan mudah, serta sistematis dan massif melakukan doktrinasi melalui intensitas komunikasi. Akan berbahaya apabila doktrinasi yang dilakukan justru menjurus kearah kekerasan. Alih-alih mengajak ke jalan yang benar justru dijerumuskan kearah fatal serta berbahaya. Mengkonstruksi para siwa-siwi membenarkan kekerasan dilakukan atas nama agama sebagai wujud jihad dan solidaritas dengan sesama ummat islam.

Terbukti dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga kajian islam dan perdamaian (LaKIP) yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi islam di UIN Jakarta, mengungkapkan data yang mencengangkan bahwa pada oktober 2010 hingga januari 2011 hampir 50% pelajar setuju dengan tindakan radikal.

Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila sudah tidak relevan lagi. Sementara 84,8 % siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan syari’at islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Hal ini tidak hanya mencengangkan, tapi juga meresahkan kita semua terutama para orang tua. Karena atas nama apapun kekerasan tidak pernah dibenarkan pun demi kebaikan. Mahatma Gandhi selalu mengingatkan kita bahwa apabila kekerasan dibalas kekerasan maka akan menghasilkan kekerasan yang lebih dahsyat.

Maka memiliki pemikiran anti radikalisme dalam setiap diri para guru adalah mutlak. Memiliki pemahaman keislaman dan keindonesiaan dalam setiap pendidik adalah wajib. Guna menangkal radikalisme tak lagi menyusup melalui ruang-ruang kecil yang kasat mata.

Guru Sebagai Pemutus Akar Radikalisme

Guru Besar pakar radikalisme dan terorisme Prof. Dr. Irfan Idris,MA memaparkan bahwa sekolah-sekolah melalui organisasi ekstrakulikuler yaitu rohis menjadi salah satu pintu masuknya paham ekstrim ini kedunia siswa. Rohis ini adalah organisasi yang terdapat di sekolah menengah atas, madrasah aliyah, dan sederajat. Perkembangan radikalisme di sekolah-sekolah biasa ditunjang oleh sikap tidak mau tahu dan acuh dari guru-guru yang bersangkutan.

Maka kesadaran dan sensitifitas guru terutama guru agama sangat urgen dalam menghalau radikalisme. Tidak akan cukup hanya bersandar pada kurikulum. Sebaik dan sehebat apapun kurikulum yang digagas apabila para guru tidak memiliki jiwa toleransi, tidak menyadari bahwa kita ini berbeda tapi memiliki satu tujuan dalam bingkai NKRI, dan tak memiliki wawasan kebangsaan yang tinggi.

So, gagasan kurikulum anti radikalisme akan teraktualisasi dengan maksimal, serta akan efektif dan terimplementasi dengan baik jika gurunya berperspektif anti-radikalisme. karena sesungguhnya aktor utama dan inti untuk memutus akar radikalisme adalah melalui para guru.

rohaniintadewi

a wife|long life learner|Sasak-Lombok

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *