Fastabiqul Khoirot, Ikhtiar Menyemai Semangat Relawan Milenial


Apa yang terlintas ketika kita mendengar kata Relawan? lokasi bencana, alat medis, kotak P3K, percikan darah, dan lain sebagainya yang berkait dengan kondisi sengkarut di lapangan. Pendapat tersebut seluruhnya benar, akan tetapi hal tersebut mempersempit makna jiwa kerelawanan dalam artian yang lebih luas. Relawan secara teks tidak akan berubah, namun dalam tataran konteks istilah relawan masih harus diperluas cakupanya, khususnya pada era informasi global sekarang ini.
Studi tahun 2016 yang dilakukan oleh John W. Miller (President of Central Connecticut State University di New Britain, menyebutkan Indonesia berada di bawah Thailan dan skor diatas negara Bostwana yaitu pada posisi 60 dari 61 negara yang budaya literasinya masih cukup rendah. Di lain sisi, Indonesia menempati ranking ke lima sebagai pengguna internet dunia yaitu sekitar 132 juta pengguna. Berbanding lurus dengan rangking peringkat ke Tiga pengguna Facebook di dunia, sekitar 70 juta pengguna. Selain itu peringkat ke Lima pengguna aktif twitter di dunia yaitu sekitar 60 juta akun.
Apa dampaknya? Penetrasi internet yang sangat cepat dengan pengguna internet yang cukup aktif berkolaborasi dengan budaya literasi yang buruk. Inilah bencana dunia maya yang nyata. Generasi kita rentan menjadi generasi yang pencet duluan mikir belakangan, generasi netizen yang melek jari tapi buta wawasan. Lebih tertarik membaca judul berita daripada menelaah isinya, jari lebih cepat dari otak, lebih suka sharing tanpa saring, devisit inovasi namun justru surplus caci maki.
Dan menjadi tugas kita bersama untuk mulai menyemai relawan milenial untuk berperan aktif di dunia maya khususnya. Mengapa penting semangat kerelawanan Gen (baca generasi) Milenial harus terus diasah? Kemajuan tekhnologi informasi sebagaimana kita ketahui terasa semakin menyempitkan dunia. Informasi yang berseliweran di dunia maya hampir minim saringan. Hal ini cukup mengkhawatirkan, mengingat tidak seluruhnya infromasi dapat dipertanggungjawabkan dari mana sumber beritanya.
Keberadaan relawan yang konsisten menyuarakan nilai-nilai perdamaian, toleransi, pentingnya menghargai keberagaman dalam bingkai NKRI serta bagaimana bijak untuk menyikapi serangkaian informasi hoaks yang beredar, belakangan belumlah menjadi pilihan garis perjuangan yang konsisten dan berkelanjutan dijalankan oleh netizen yang notabene mayoritas gen milenial.
Ada tiga faktor yang menjadi tantangan khususnya dalam hal mendidik relawan gen milenial yang tidak hanya melek media sosial tapi memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan ‘perlawanan” terhadap isu-isu khususnya yang mengarah pada penyebaran paham radikalisme, ekstrimisme, intoleransi.
Pertama, berkait dengan masih kurangnya figur-figur atau tokoh moderat yang dijadikan panutan khususnya dalam hal pembelajaran arti penting dari semangat-semangat kerelawanan tentu dengan basis pengetahuan konten apa saja yang mesti disaring dan disebarluaskan. Jikapun ada, figur-figur tersebut dinggap masih belum representatif untuk masuk dan melakukan pendekatan kepada gen milenial.
Kedua, minat baca, berliterasi yang masih belum kaffah diterapkan. Berliterasi tentu bukan sekedar membaca tapi juga paham apa yang dibaca. Budaya literasi ini cukup penting selain sebagai bekal memperuas wawasan kita, sekaligus menjadi salah satu pintu masuk bagaimana memahami apa yang kita pelajari. Literasi menjadi alat saring untuk memilah dan memilih wacana apa yang selaras untuk disampaikan oleh relawan milenial.
Ketiga kemampuan menguasai media/alat penyampaian. Sebagus-bagus konten jika dalam penyampaiannya masih kurang kreatif khususnya dalam memanfaatkan media yang ada, atau dalam mendesain konten yang akan disajikan maka hal tersebut boleh jadi akan kurang menarik perhatian khususnya oleh pemirsa yang notabene merupakan gen milenial di dunia maya. Maka penting dalam hal ini relawan milenial juga membekali diri dengan kapasitas dan keterampilan termasuk mulai melakukan analisis terhadap isu apa yang paling diminati.
Ketiga tantangan di atas tentu belum baku dan saklek masih terbuka ruang untuk mendiskusikan berbagai tantangan lain yang mungkin saja dihadapi oleh calon relawan milenial, mengingat permasalah dunia yang semakin kompleks. Namun, yang penting menjadi catatan kita bersama adalah menyemai semangat relawan adalah hal pokok yang bersegera untuk dilakukan secara berkelanjutan.
Maka semangat kerelawanan dapat bertumpu dari nilai-nilai kebaikan yang tertuang dalam ajaran agama. Sebagaimana kutipan sebagai penutup tulisan ini, agar hendaklah kita terus berlomba berbuat kebaikan (Fastabiqul Khairot) “Dan bagi tiap-tiap umat adda kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadaNya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Alloh akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat) Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS: Al Baqarah: 148). Allohuallam bissawab***

maia rahmayati

Inaq Millenial Gen #Pepadu Menyukai membaca, masak, traveling dan penganut Mazhab "Garis Lucu"

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *