Watak Manusia dan Cita-Cita Perdamaian

“Sampaikanlah Kebenaran dengan cara yang baik, lakukanlah Kebaikan dengan Cara yang benar”

Dalam nalar falsafi, kita sering menemukan berbagai pandangan yang berbeda mengenai manusia, yang secara umum dapat kita reduksi menjadi dua pandangan mainstream yaitu: kelompok yang optimis, yaitu kelompok yang memandang bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan selalu menghasrati kebaikan dan hal-hal yang sejenis. Yang kedua adalah kelompok yang skeptis yang meyakini bahwa pada dasarnya manusia itu jahat. Mereka yakin bahwa apa yang kita lihat baik di permukaan, tidak lebih dari  sebuah kamuflase belaka. Berangkat dari bipolaritas semacam itulah saya merasa tertarik untuk membicarakan masalah ini lebih jauh. Apa sebenarnya hubungan watak manusia dengan cita-cita luhur perdamaian.

Jika kita menggali watak dasar manusia, baik secara Psikologis maupun Sosiologis, ada indikasi kuat yang mendorong kita untuk berani mengatakan bahwa pada dasarnya, manusia itu  senantiasa rindu pada kedamaian, pada  keindahan dan kebaikan. Hal itu bisa kita buktikan dengan merenungkan setiap upaya yang dilakukan manusia di dalam kehidupan, baik sebagai individu maupun kelompok,  muaranya tetap satu yaitu kedamaian atau kebaikan itu sendiri. Karena kita ingin menjalani hidup ini dengan cara yang lebih layak, maka kita mencari rizki dengan bekerja. Karena kita ingin menjalani hidup ini dengan wawasan yang lebih kaya, maka kita bergaul dan belajar. Dan seterusnya dan sebagainya.  Artinya, secara natural, kecenderungan untuk hidup damai dalam keindahan dan keteraturan adalah watak dasar manusia. posisinya hampir sama dengan kecenderungan beragama. Sekuat apapun orang menolak agama ia tidak akan benar-benar mampu menghilangkan  kecenderungan itu dalam dirinya.

Watak alamiah manusia yang semacam itu, tentu bukanlah kecenderungan yang muncul baru-baru ini, yang hadir atau dihadirkan setelah dunia mengalami serangkaian peperangan dan pembantain massal yang menyedihkan. Atau setelah dunia mengalami berbagai macam revolusi, reformasi dan pencerahan dalam segala lini. Hal itu merupakan suatu kecenderungan yang secara apriori ada dalam diri manusia. Coba kita perhatikan ungkapan Aristoteles berikut ini“every state is a comunitiy of some kind, and every community is established with a view to some good; for mankind always act in order to obtain that wich they think good” (Benjamain Jowet, Aristoteles Politics:1999:3). Jadi,  kata Aristoteles, setiap Negara adalah suatu komunitas  yang berbeda-beda, dan setiap komunitas dibangun di atas cita-cita ideal mereka. karena memang, setiap aktifitas yang dilakukan manusia, tujuannya adalah untuk mendapatkan apa yang baik dalam pandangan mereka.

Akan tetapi, meskipun titik pusat yang kita tuju adalah titik yang  sama, namun seringkali  cara yang kita tempuh dan langkahi tidak se-ideal tujuan kita. Di sinilah kita sebagai manusia mengungkapkan  satu fakta lain mengenai diri kita sendiri yaitu, kita itu (manusia) sangat rentan dengan godaan, mudah  sekali terprovokasi dan sangat cepat menghianati komitmen yang telah kita bangun. Melalui spektrum inilah biasanya konflik akan bersemi dan tumbuh subur serta berkepanjangan dalam kehidupan sosial kita. Dan bahkan, karena hal inilah, pemaknaan-pemaknaan miring mengenai manusia muncul dan berkembang, seperti diktumnya Thomas Hobbes misalnya yang mengatakan bahwa “Manusia Adalah Serigala Bagi Sesamanya (Homo Homini Lupus)”, Friedrich Nietzche, seorang filsuf Jerman juga mengungkapkan kalimat yang senada bahwa watak dasar manusia adalah Kehendak Untuk Berkuasa (The Will To Power). Dan masih banyak lagi pemahaman lain yang juga menyangsikan manusia sebagai mahkluk yang selalu rindu akan kedamaian dan keteraturan. Bahkan, Prof. Dr. H. Muhammad Djakfar ketika menjelaskan urgensi etika dalam dunia bisnis mengatakan bahwa secara umum, watak dasar manusia itu serakah dan cenderung mendahulukan keinginan daripada kebutuhan (Prof. Dr. Muhammad Djakfar:2012:32).

Tentu kita bisa berdiskusi sejauh mana kebenaran pernyataan-pernyataan skeptis mengenai manusia, seperti yang telah dikemukakan di atas. kita juga perlu mempertanyakan pendekatan apa yang digunakan sehingga mereka sampai pada kesimpulan semacam itu? apakah pendekatan normatif-subtantif atau hanya melihat apa yang nampak saja lalu menjelaskannya (fenomenologis-deskriptif). Terlepas dari persoalan di atas, rasa-rasanya memang sulit untuk menolak pernyataan di atas, mengingat pola perilaku masyarakat sekarang ini yang sangat konsumtif dan serakah. Meskipun demikian, kita mesti bertanya, apakah watak manusia memang demikian adanya? apakah tidak ada kemungkinan adanya faktor lain yang menjadi penyebab munculnya fenomena kemanusiaan semacam itu? Padahal kita tahu bahwa, sistem ekonomi-politik juga sangat berperan dalam memprovokasi dan menggoda manusia untuk melakukan perbuatan yang menyimpang. Artinya, watak murni manusia itu pada dasarnya lurus. Faktor eksternallah yang membuat ia bengkok. Pertanyaannya, bagaimana pernyataan di atas dapat dipertanggungjawabkan?

Jika memang pada dasarnya watak manusia itu buruk, jahat dan serakah, seharusnya semua manusia melakukan hal yang sama dan tentu tidak merasa terganggu apabila orang lain melakukan hal yang sama padanya, tetapi faktanya tidak demikian. Hukum emas  yang menasehati kita supaya memperlakukan manusia sebagaimana kita ingin diperlakukan tetap relevan. Pada dasarnya, manusia itu ingin diperlakukan baik. Hanya saja kita seringkali lupa bahwa orang lain juga mengharapkan hal yang sama. Ketidak sadaran kita serta ketiadaan komitmen kita dalam menjadikan prinsip sebagai prinsip hidup itulah yang membuat citra manusia menjadi jelek dan jahat. Kesimpulan yang dapat kita tarik tulisan sederhan ini adalah, watak dasar manusia itu pada dasarnya adalah baik dan cenderung ingin pada kebaikan. Yang mempengaruhi kita melakukan keburukan adalah desakan-desakan dari luar diri kita. Bisa berupa gaya hidup, lingkungan, cara berpikir yang dibentuk oleh lingkungan yang salah dan lain sebagainya. Jika demikian, apa hubungannya dengan cita-cita perdamaian?

Hubungan watak dasar manusia dengan cita-cita perdamaian bisa kita ibaratkan seperti api dan benda lain. Katakanlah bahwa Anda telah puluhan kali memasukkan benda itu ke dalam api. Tapi, sebanyak anda memasukkan benda itu ke dalam api, sebanyak itu pula Anda melihatnya selalu tetap dalam keadaan semula, tidak terbakar. kenapa bisa demikian? Tentu karena Anda belum melakukan identifikasi, apakah benda itu termasuk benda yang bisa terbakar api atau tidak. Jika seandainya hal itu sudah kita lakukan, maka kita tidak perlu membuang-buang waktu  untuk kegagalan yang sama. Padahal kita bisa menggunakan waktu itu untuk melakukan hal lain yang jauh lebih bermanfaat dan berguna. Begitu juga dengan cita-cita luhur perdamaian. Kegagalan kita dalam mencapai cita-cita itu, berangkat dari kegagalan kita dalam memahami manusia atau lebih tepantya adalah, kegagalan kita dalam memahami diri kita sendiri.  Ketika kita sampai pada satu konteks kebenaran mengenai watak manusia, maka pada saat itu kita mengantongi satu modal pengetahuan yang bisa  dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah selanjutnya.

Perdamaian memang bukan urusan suatu lembaga tertentu. perdamaian adalah urusan semua orang dan menyangkut kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Dan satu lagi, untuk saat itu, perdamaian bukanlah suatu keadaan yang sudah ada, melainkan masih menjadi suatu mimpi yang harus segera diwujudkan. Dan tentu,  sudah seharusnya hal itu menjadi perhatian kita semua. Menolak upaya mewujudkan perdamaian, sama saja dengan menggembalakan konflik benturan-benturan antar sesame manusia yang tidak jarang memicu korban jiwa. Dan jika upaya perdamaian telah kita lakukan, tapi benturan tetap ada, friksi dan diskriminasi tetap tumbuh dan berkembang, barangkali kita perlu menata pemahaman kita kembali mengenai manusia dan memasifkannya. Kenapa? Tentu karena kita tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai manusia. jika memang kita memiliki pemahaman, tentu kita akan sama-sama mengerti dan mengalah, saling membuka diri dan memaafkan. Karena itulah, kunci perdamaian adalah saling pengertian, dan untuk sampai pada sikap bijak semacam itu tidak ada jalan lain selain memahami manusia dan watak dasarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *