Waspada !! Keliru Klik, Dampaknya Bisa Pelik

 “Indonesia adalah negara dengan contoh terbaik dalam hal mengelola keberagaman demi keselarasan berbangsa” Prof. DR. Thomas Meyer dalam pengatar diskusi publik bertema Mengelola Keragaman Budaya dan Identitas yang berlangsung pada 18 September 2017 di Auditorium kampus Universitas Islam Negeri Mataram.

Pada kesempatan tersebut, Meyer juga memberikan pandangan mengenai bagaimana kelompok berpaham fundamentalis sudah ada sejak lama hampir di semua negara di dunia. Fundamentalisme yang rentan dengan ekstrimismre serta mengarah pada radikalisme.

Meyer menyebut, karakter utama fundamentalisme ini hampir di semua negara berbeda-beda latar belakangnya. Di Eropa dan Amerika contohnya, fundamentalisme etnis menjadi tantangan yang telah dilalui hampir berabad lamanya. Sementara di Indonesia, yang merupakan rumah bagi banyak budaya, agama dan etnis ysitu ada sekitar 656 suku dan lebih dari 500 bahasa yang dipakai dalam interaksi masyarakat.

Keberagaman itulah yang menjadi potensi sumber daya Indonesia sekaligus tantangan untuk tumbuh kembang bangsa ini dan melalui Sumpah Pemoeda sampai pada tercetusnya Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, para pejuang kemerdekaan dapat dikatakan telah berhasil merekatkan bingkai negara dan bangsa ini sebagai negara kesatuan republik Indonesia.

Keberterimaan dalam tata kelola keberagaman etnis, bahasa dan suku bangsa ini menurut Meyer merupakan pondasi yang kuat yang dimiliki Indonesia dan nyaris tidak dimiliki oleh banyak negara. Akan tetapi, pada perkembangannya keragaman agama, keyakinan yang telah lebih dahulu di tata sebagai pondasi dasar negara melalui sila pertama pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa” pun tidak luput dari tantangan besar dalam merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Sebagaimana etnis, dalam agama kelompok fundamentalis juga mengambil peran dalam menggiring wacana kuasa-berkuasa. hal ini sering pula disebut sebagai politisasi agama dalam ranah kekuasaan suatu negara.

Bahwasannya pada tiap agama, etnis yang ada, akan selalu ada kelompok atau golongan sebagai pengikut yang memiliki paham fundamental, dan hal ini retan dijadikan tunggangan bagi oknum yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Pertanyaan penting yang menjadi dasar pijak dalam melihat bagaimana persoalan serta antisipasi, jawaban atas tantangan tatakelola keberagaman guna menghindari setiap isu yang mengarah pada adu domba, perpecahan antar individu, kelompok, golongan.  Mendasar adalah bagaimana hal tersebut dapat dikelola dalam bingkai satu negara, berbangsa?

  • Mengatasi Ketimpangan Sosial dan Ekonomi

Hal pertama yaitu mengakhiri ketimpangan sosial dan ekonomi, sebab bukan hal baru, bahwa ketimpangan sosial dan ekonomi acap kali menimbulkan konflik, baik pada hal penguasaan asset dan sumber daya, maupun pada pelayanan sosial dasar yang memadai seperti kesehatan, pendidikan dan lainnya.

Mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi tentunya menjadi tanggung jawab negara. Sebagaimana termaktub dalam butir pancasila yaitu sila ke-lima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan terjabar pula dalam Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia pasal 33.

Pada soal ketimpangan sosial dan ekonomi ini pula menjadi salah satu strategi pemecahan masalah Radikalisme dan terorisme yang dapat ditempuh. Dengan kata lain, kesejahtraan tidak sekedar wacana namun kesejahtraan dapat menjadi kunci bahwa negara harus hadir menjawab persoalan mendasar rakyat.

  • Dunia Maya dan Antisipasi Adu Domba

Internet tidak hanya masuk ke desa-desa, tidak hanya menembus sekat kamar ruang 4×3 yang privasi, tapi ia telah masuk, merasuk ke tiap relung kehidupan manusia di era sekarang. Hampir semua tempat terjangkau oleh internet, bahkan seorang teman berseloroh “mungkin hanya letak Surga dan neraka saja yang belum terdeteksi di google map”.

Berbagai ragam isu, informasi, hiburan, kajian keagamaan, informasi kuliner, temoat liburan, dan berbagai macam hal dapat diakses selama kuota mencukupi. Tidak peduli genre usia, status sosial, lapisan ekonomi, tiap ornag dapat mengaksesnya. Keterbukaan inilah yang diibaratkan bagai pisau bermata dua, yang jika berada di tangan orang yang tepat maka ia akan dikelola baik, dan jika berada di tangan keliru maka ia dapat menikam siapa saja.

Jejak digital, tidak selamanya meninggalkan kesan indah, ia meninggalkan pula luka, menyisakan kepedihan atau bahkan dijadikan alat propaganda, memfasilitasi siapa saja dengan mudah bertukar wacana, mencuci otak sebersihnya atau bahkan menenggelamkan ke dalam lumpur kenistaan.

Diskusi via jejaring media sosial misalnya, tidak selalu berakhir dengan kesepahaman sudut pandang, bahkan tidak sedikit pula menyudutkan banyak orang. Generasi pengakses informasi di era kekinian yang gandrung pada shareing (membagi) tanpa saring. Kerja jari jemari lebih cepat dari kontemplasi adalah hal yang berbahaya.

Maka tiap kerentanan pengguna jejaring informasi dunia maya, hendaklah benar-benar cerdas mengelola, mengolah, tiap seliweran isu, informasi, tidak serta dengan kata lain bijak bermedia sosial, mengkros cek berbagai sumber dan tidak pasif apalagi latah menerima mentah-mentah tiap informasi. Apalagi jika nyata-nyata informasi yang kita terima dirasa rentan pada upaya perpecahan, adu domba, konflik.

Pertimbangkan lagi, sayangkan kalau kedamaian, perdamaian, keragaman, keberagaman yang selama ini  terjaga baik dapat porak poranda hanya karena gagal paham menggunakan nalar bersosial media. Waspada!! sekali jari meng-klik, dampaknya bisa saja pelik” ***

maia rahmayati

Inaq Millenial Gen #Pepadu Menyukai membaca, masak, traveling dan penganut Mazhab "Garis Lucu"

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *