Semangat Pemuda Dalam “Catatan Seorang Demonstran”

Saat menjadi mahasiswa dulu buku berjudul Catatan Seorang Demonstran adalah salah satu buku paling ngehits di kalangan pemuda. Buku ini membuat pemuda semakin merenungkan langkah, cita-cita, inti kemerdekaan, tidak hanya mendiskusikan masalah tetapi juga mengambil tindakan untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Mengapa?

Karena dalam pendahuluannya pemuda tahu asal usul mereka. Diceritakan dengan jelas bahwa pemuda-pemuda adalah mahasiswa pertama di suatu lembaga pendidikan tinggi yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah Bung Karno yang menyelesaikan studinya pada tahun 1926. Ia kemudian menjadi Presiden pertama Indonesia. Kemudian berdiri pula sekolah tinggi lainnya seperti Rechtshoogeschool (RHS), Genees-kundige Hoogeschol (GHS) di Jakarta. Pemuda-pemuda yang bersekolah di lembaga ini berperan penting dalam menciptakan berbagai gerakan politik yang pada akhirnya meruntuhkan struktur masyarakat jajahan. baca: 15-kutipan-tentang-pemuda-yang-akan-membuatmu-semangat-untuk-berkarya

Karena dalam sebuah renungan yang ditulis Arief Budiman untuk Sho Hok Gie, pemuda tahu bahwa mereka bertugas menjadi penebar kebenaran dan perdamaian bahkan dalam kondisi seburuk-buruknya. Dalam renungan ini Arief mengingat kata-kata Gie sebelum ia meninggal. “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.

Karena dalam Catatan Pengagum dari Mira Lesmana sebagai seorang remaja yang tumbuh dalam masa Orde Baru telah membuatnya merasa sangat bodoh. Mungkin kamu sebagai pemuda akan merasakan hal yang sama. Kamu merasa tidak tahu banyak tentang hal-hal yang terjadi di negeri ini. Selain itu banyak orang yang berpikir kalau sosok Gie seperti sosok Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta, seorang pemuda yang dingin, pemikir, pendiam atau angkuh, tapi ternyata sebaliknya. Sosok Gie seperti pemuda pada umumnya, periang, supel, ramah dan tentu saja seorang pendebat. baca:cerdas-lawan-radikalisme-pemuda-harus-melek-literasi

Karena dalam bagian Sang Demonstran, pemuda akan menemukan dirinya sebagai “manusia baru” yang lahir setelah kemerdekaan, yang berumur anatara 20-30 tahun. Maksud dari manusia baru ini adalah bukan manusia baru secara literal atau bukan semata-mata manusia baru. Tetapi yang dimkasud adalah mereka yang mengalami sesuatu yang baru , mereka yang memiliki pengalaman berpolitik dan sosial yang baru, yang kemudian membentuk manusia baru, harapan baru, dengan semangat baru. Tentu saja ini berkaitan erat dengan kehidupan pemuda sekarang di mana mereka memiliki dua kehidupan, kehidupan di dunia maya dan di dunia nyata  di mana mereka harus berjuang melawan hoaks dan stigma-stigma yang mengancam pancasila. Dalam bab ini pemuda juga akan tahu betapa berharganya idealism yang mereka miliki seperti kata seorang filsuf Yunani:

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Karena dalam buku ini Pemuda akan bertemu dengan sosok lainnya, yaitu Ahmad Wahib, seorang pemuda Muslim yang juga lahir di tahun yang sama pada saat Gie dilahirnya. Seperti Gie, pemuda Muslim ini senantiasa bersikap dinamis, mencari, mempertanyakan segalanya dan menyebarkan segala yang terbongkar kemudian menyusun yang benar. Seperti yang dia ungkapkan tentang dirinya.

“Aku bukan Nasionalis, bukan Katolik, bukan sosial. Aku bukan Buddha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan Komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin bahwa orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkandari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat.”

Sebenarnya masih banyak lagi paragraph-paragraph berawalan karena yang ingin saya tulis yang akan membuat kita terus mengisi kemerdekaan ini dengan berkarya, menginspirasi kita menjadi duta damai, menjembatani perbedaan yang ada di negeri kita. Namun kata-kata yang saya tulis telah mencapai lebih dari lima ratus kata, saya tidak ingin membuat kamu bosan, saya juga ingin membuatmu penasaran agar kamu mampir ke toko buku besok pagi  atau menghubungi teman untuk mencari  ataupun meminjam buku ini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *