Redupnya Ukhuwah Bangsa

Ukhuwah diartikan bagaimana kita menjaga eratnya persaudaraan antar sesama, bukan hanya dengan saudara se-agama, namun se-bangsa dan se-tanah air.

Indonesia, Negara kita tercinta. Negara yang majemuk dan memiliki keberagaman yang luas. Namun tidak serta-merta kita akan menjadikan keberagaman sebagai alat untuk kepentingan pribadi ataupun golongan. Keberagaman ini harusnya menjadi potensi besar dalam menopang keutuhan bangsa.

Jika kita mengenal bangsa kita lebih dalam lagi, kita akan tahu, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang sangat kaya akan khazanah dan budaya. Siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab menjaganya. Kita… ya… kita sebagai generasi penerus bangsa harus meletakkan keutuhan bangsa di atas kepala. Menjaga keberagaman dalam keberagamaan.

Sekarang ini Negara kita seakan menangis, berteriak oleh ketidakbenaran kita sebagai seorang yang diberikan tanggung jawab. Kita seakan hanya menumpang hidup, hanya memikirkan kepentingan pribadi, bahkan politik. Kita dengan bangga mengatakan bahwa Negara ini hanya milik sebagian ummat atau kelompok semata. Kita menebarkan kalimat-kalimat propokatif serta adu domba.

Sudahlah….
Bukankah semua ummat menginginkan perdamaian?.
Bukankah semua ummat ingin mendapatkan kebahagian, kesejahteraan, bahkan ketengan jiwa?.

Ambil satu contoh, Islam, agama yang banyak diyakini di Indonesia. Tidak satupun dalam ajarannya yang mengajarkan ketidakbenaran. Tidak satupun ditemukan mengajarkan perpecahan.
Kutipan Al-Qur’an (Kitab ummat Islam)
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.”

(QS al-Hujurat :10).

bac:perkokoh-persatuan-hancurkan-devide-et-impera
 

Semua pelajaran dalam Islam semuanya berisi tentang kebenaran. Lalu siapa orang-orang yang selalu mengatasnamakan Islam, membuat perpecahan bahkan melunturkan nilai-nilai ukhuwah itu sendiri. Membuat berita-berita palsu. Mengeluarkan kalimat-kalimat propokatif. Islam bahkan mengajarkan perdamaian. Bagaimana islam menyeru untuk menyaring kalimat yang kita keluarkan, menyaring berita atau cerita yang belum tentu kebenarannya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

(Q. S. Al-Hujurat:6).

baca:pahlawan-modern

Ukhuwah, ungkapan yang sering didengarkan. Namun implementasinya dalam kehidupan selalu abstrak. Bahkan sekarang ini lebih sering melihat perbedaan daripada persamaan. Lebih sering mendengar isu propokatif dan adu domba.

Ukhuwah sering diredupkan, namun adu domba yang lebih marak diperlihatkan. Adu domba antar se-agama, antar ummat beragama, bahkan antar saudara. Padahal adu domba adalah sifat yang tercela, baik menurut Islam atau agama lainnya. Adu domba sangat membahayakan ukhuwah.

Daripada “adu domba” mendingan “adu nyali” itulah ukhuwah yang sebenarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *