Proyeksi 2018: Damai Yes Ujaran Kebencian No

Setiap orang pasti memiliki harapan baru dalam menyambut momen pergantian tahun. 2017 lalu, diwarnai dengan maraknya isu hoaks dan mewujud dalam narasi kebencian dan radikalisme di dunia maya. Begitu juga eksploitasi agama dalam kepentingan politik telah menggiring terciptanya sentimen SARA yang berpotensi memecah belah persatuan.

Semoga di tahun 2018 yang diproyeksikan sebagai tahun politik. Tidak menimbulkan anarkisme sosial, dan tidak memberikan ruang potensi radikalisme terbuka. Tetapi mewujud sebagai tahun damai tanpa kebencian, kekerasan, dan terorisme demi merawat persatuan bangsa.

2018 Pemilu Damai Yes

2018 akan menjadi tahun politik. Banyak pilkada serentak yang akan dihelat tahun ini di seantero nusantara. Berdasarkan informasi dari KPU RI dalam detik news ada 171 daerah yang akan berpartisipasi pada ajang pilkada 2018. Dari 171 daerah tersebut, terdiri dari: 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.

Pemilu merupakan ruang untuk rakyat dapat menyalurkan hak politiknya secara bebas dan damai. Tanpa tekanan dan intimidasi. Meskipun, disis lain tak bisa dipungkiri akan banyak potensi dan celah untuk kisruh apabila tidak di antisispasi sedini mungkin. Terutama diwilayah yang dianggap paling rawan. Akan timbul tekanan-tekanan kelompok dalam pemberian suara. Dan konflik pecah belah bagi yang berbeda pilihan. Pun antar saudara.

Namun kekhawatiran ini jangan sampai menimbulkan rasa antipati terhadap pemilu. Karena nasib bangsa ini ada ditangan kita semua. Satu suara sangat menentukan. One vote for better future. Untuk sampai ketahap demokrasi sekarang ini adalah hasil dari perjuangan panjang dimasa lalu. Lalu, apakah kita begitu saja akan abai, hanya karena persoalan like dan dislike.

So, mewujudkan pemilu damai adalah tugas kita bersama. Jangan cepat terprovokasi apalagi menjadi simpatisan buta salah satu calon atau partai politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, termasuk melakukan tindakan-tindakan radikal. Berbineka pilihan sah-sah saja, tapi harus tunggal tujuan yaitu Indonesia damai.

Immanuel Kant, seorang filsuf jerman termashur di abad 18 menekankan bahwa pentingnya memperlakukan manusia sebagai tujuan dari politik itu sendiri. Sehingga dalam pilkada nanti apapun pilihannya, siapapun pemenangnya, kesejahteraan, persatuan dan persaudaraan antar warga bangsalah tujuannya. Perdamaian abadi adalah sebuah tujuan bersama.

2018 Ujaran Kebencian No

Maraknya ujaran kebencian sangat membahayakan bagi kedamaian bangsa. Ujaran kebencian sama mematikannya dengan senjata. Para ulama bangsa inipun menyadari fenomena ini. Hal tersebut terlihat pada saat dilaksanakan musyawarah nasional (MUNAS) dan konferensi besar (KONBES) alim ulama Nahdlatul Ulama, hate speech yang berujung lahirnya tindakan radikalisme dan terorisme hadir tuk diperbincangkan secara khusus.

Pencegahan dan penanggulangan terorisme menjadi salah satu dari sekian rekomendasi pada MUNAS dan KONBES alim ulama NU. Salah satu dari tujuh point menegaskan: partai politik dan politisi harus berhenti menggunakan sentiment agama dalam pertarungan politik praktis. Memainkan sentiment agama untuk untuk perebutan kekuasaan 5 tahunan merupakan tindakan tidak bertanggungjawab yang dapat mengoyak kelangsungan hidup bangsa.

So, di tahun politik ini mari kita sama-sama mengambil bagian untuk mengkawal dan memastikan terselenggaranya tahun politik damai nir-ujaran kebencian.

rohanidewi

a wife|long life learner|Sasak-Lombok

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *