Jong Jaman Now !! Ini Alasan Mengapa Anda Penting Pahami Sejarah

“Sejarah ialah peristiwa yang terjadi di masa lampau.  Tetapi sejarah juga diciptakan hari ini, dalam momen peristiwa empat hari. Maka wahay..anak Muda ciptakan sejarahmu, kabar dan kibarkan perdamaian itu sebagai amalmu”- Quote dari Rohani Intadewi atau yang akrab di sapa Bunda Hani (Akademisi bidang Sosiologi kini menjabat sebagai Kepala Divisi Penggalangan Dana Tim Pepadu Duta Damai Indoenesia wilayah  NTB)

Membincang tentang Indonesia yang kaya dari segi sumber daya alamnya, keberagaman ras suku bangsanya, etnis, budaya yang menjadi bagian Identitas bangsa maka sesungguhnya tak akan pernah cukup waktu hampir satu dasawarsa untuk menggali dan berbagi informasi tentang itu. itupun jika kita melihat kembali sejarah lahirnya persatuan pemuda di Nusantara pada tanggal 28 Oktober 1928, para Jong yang berkumpul dari berbagai pulau, mewakili berbagai etnis bersepakat untuk mendeklarasikan apa yang disebut sebagai “Soempah Pemoeda”.

Nah.. guna memperingati perayaan sekaligus menebalkan rasa nasionalisme, berteguh pada jalan perdamaian, tulisan ini kami susun dalam rangka peringatan Hari Soempah Pemoeda. Hal ini sekaligus momentum bagi kami untuk berkenalan sebagai satu keluarga Duta Damai bernama Tim Pepadu yang berasal dari belahan Timur Indonesia tepatnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang diresmikan pada 24 Oktober 2017.

Ziadah Ziad seorang E-Jurnalis handal dalam Tim Pepadu dengan mengutip pepatah lawas mengatakan “Tak kenal maka tak sayang, maka perbanyaklah kenalan (Silaturrahmi) niscaya kasih sayang (kedamaian) akan tercurah padamu” pernyataan itu pun telah di aminkan oleh rekan se-divisi-nya yaitu Rizki E-jurnalis handal Tim Pepadu yang kini masih berstatus si Pejuang Cinta dan Kedamaian. Maka pada paragraf ini, kami selaku Tim Pepadu juga hendak menggalang dukungan moral dan spiritual dari pembaca dengan cara; setelah anda selesai membaca tulisan ini, mohon “di komen, di share dan aminkan, dan ucapkan …Alfatehah bagi perjuangan Rizki.

Melalui tulisan ini, saya (Inaq Maya) selaku yang kebetulan berperan sebagai Pimpinan Redaksi, mewakili tim Pepadu mengucapkan salam kenal, salam damai, salam sayang untuk pembaca yang budiman, yang selalu mencintai kelucuan, humor sebagai bagian dari cara menebar, dakwah, jihad untuk perdamaian.

Ini lho Gaes.. 10 dari 12 Anggota Tim Pepadu Duta Damai Indoensia wilayah NTB

Maklumilah bahwa waktu pelatihan selama empat hari, tiga malam, dan hanya sepuluh menit untuk sesi presentasi kelompok, bagi kami tidaklah cukup untuk membincang, menceritakan serta memperkenalkan lebih mendalam  apa dan bagaimana makna filosofi, latar belakang dari pilihan nama Pepadu sebagai nama Tim kami. Maka dari itu perbanyaklah bersabar dalam membaca tulisan ini, sebab sebagaimana permohonan maaf yang tertera di kartu undangan perkawinan [ mohon maaf jika terdapat  kesalahan dalam penulisan nama/gelar ] kami juga hendak memohon maaf jika terdapat kesilapan kata (cieee… serasa momen lebaran..) baiklah kita mulaikan..

  • Jadi Begini Ceritanya……

Jika sahabat’s semua datang ke provinsi NTB khususnya di wilayah Lombok, atau kebetulan pernah menyaksikan melalui media sosial mengenai “Tradisi Peresean/ Perisaian” yaitu tradisi, atraksi para petarung, membawa Ende (perisai)  ditangan kiri dan cambuk di tangan kanan (sebenarnya boleh dibalik juga sih.. kalau ada Pepadu yang kidal).

Menyaksikan Peresean, kita akan larut dalam suasana riuh, ramai support penonton yang senantiasa menyemangati kepiawaian para Pepadu (petarung) untuk berkelit, memprisai diri dari cambukan serta memukul balik lawan. “Nah.. jangan buru-buru mengambil simpulan bahwa atraksi Perisaian ini hanya menonjolkan sisi kekerasan semata apalagi jika menganggapnya sebagai bid’ah” komentar Taufik dan Imam “si duo bocah” yang kini menduduki jabatan pada Divisi Multimedia Tim Pepadu.

Lain halnya dengan Duo Bocah. Saikin, pria irit bicara yang dijuluki “siCool Man” sekaligus kepala divisi Web Master IT Pepadu menyatakan Peresean sebagai manajemen konflik yang dikemas apik dalam lakon atraksi budaya dan dapat menjadi media pengantar energi positif”, Saikin juga mengumpamakan Peresean ibarat kumparan kabel berbalut plastik sebagai pengantar arus listrik yang baik.

Dua orang Pepadu bersepakat berduel dalam satu kompetisi adu ketangkasan, kelihaian, strategi di fasilitasi oleh wasit (disebut Pekembar) merangkap supporter sekaligus mengawasi proses Peresaean. Sangat sportif dan potensial meningkatkan PAD serta nilai investasi pariwisata budaya NTB khususnya Lombok jika terus dikemas menarik”  tutur  Alfian alias pak Lurah yang mengumpamakan Pepadu dalam Peresean sebagai kejelian melihat nominal, dan bagaimana mengelola neraca keuangan tetap berimbang. Atas statmen itulah Tim Pepadu menunjuk beliau sebagai yang berwenang mengelola keuangan, he he he.

Menonton Peresean, sebaiknya anda tidak perlu heran atau latah meringis kesakitan, jika mendapati tak sedikit luka bekas sabetan rotan di tubuh para Pepadu “Yakinlah..luka sabetan rotan kadang tak seberapa dibandingkan luka bekas hoax dan fitnah di media sosial” begitu komentar Brian Mahasiswa semester V jurusan tehnik elektro Universitas Mataram yang dimandatkan duduk sebagai kepala divisi publikasi dan dokumentasi.

Para Pepadu peresean tak pernah ada yang benar-benar takluk, kalah, apalagai jika sampai nangis guling-guling ditanah setelah wasit mengangkat tangan salah seorang Pepadu yang lebih unggul. “Sebab tak ada kalah dan menang dalam atraksi peresean marena sejatinya Pepadu ialah simbol lain dari keberanian, kekuatan, sekaligus harapan” tutur Saiful Hamdi sekretaris redaksi Pepadu.

Sementara itu, Ade (18 tahun) komikus yang mengampu jabatan kepada divisi Digital Art memberi tanggapannya tentang Peresean dan Pepadu sebagai perpaduan antara narasi, ide, adu ketangkasan “Saya pribadi akan senang sekali membuat tokoh komik Pepadu yang akan membawa perisai simbol pancasila sebagai aktualisasi jiwa nasionalisme kids jaman now” tutur pemuda berambut cepak, berkacamata minus tiga koma.

Komentar Ade disetujui pula oleh Suriadi ketua divisi media Sosial, pria kalem dengan senyuman irit namun memberi spirit itu menyatakan siap untuk meramaikan jagat dunia maya dengan mengusung konten perdamaian sekaligus menangkal radikalisasi, teror kata-kata dengan semangat pepadu prisai Pancasila.

Dari hasil rapat, debat, akumulasi statmen serta pernyataan sikap itulah kami dua belas orang pemuda semakin mantap pendirian, bulat tekad untuk menggali makna filosofi Logo Tim. Pepadu bertubuh biru melambangkan pencarian pengetahuan pada kedalaman biru lautan dan langit yang tinggi, sementara perisai berwarna putih adalah simbol perdamaian dan nasionalisme.

Nama “Pepadu” selain sebagai simbol petarung yang mencintai NKRI, memprisai diri dengan semangat pancasila, hasil rapat tim kami menemukan ilham berupa akronim Pepadu sebagai “Penebar Perdamaian Dunia”. Masya Alloh… semoga kita senantiasa berada dalam lindungan Tuhan yang maha Kuasa.

Sebagai simpulan akhir, kami Tim Pepadu mengucapkan banyak terimakasih atas keluangan waktu anda untuk membaca tulisan ini. Kami juga mengimbau agar jangan lupa “like, share dan aminkan” tulisan ini. Kami tunggu partisipasi anda untuk bergembira dengan memfollow akun instagram, twitter, facebook, subscribe  semeton pepadu.  Dan..jangan pernah lelah mencintai Indonesia,  jangan menyerah melintasi jalan damai.. Semangat Jong !!

 

Salam Redaksi

 

Note** sebagian besar  bahan tulisan ini adalah hasil tela’ah lontaran kata, obrolan saat jam ngopi di acara Pelatihan Duta Damai Dunia Maya Kota Mataram.  Adapun statmen, komentar yang dikutip langsung adalah hasil wawancara imajiner penulis denga narasumber tersebut.

maia rahmayati

Inaq Millenial Gen #Pepadu Menyukai membaca, masak, traveling dan penganut Mazhab "Garis Lucu"

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Bang Evheen berkata:

    Mantap Pepadu Memang Luar Biasa..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *