Pemimpin Syahid Tanpa Jejak Radikalisme.

“Syahid”, kata yang cukup populer di masyarakat. Sepertinya hanya satu kata yang memiliki manfaat yang besar bagi yang meyakininya. Seolah-olah kata tersebut menjadi gelar satu-satunya bagi seorang pejuang. Namun jika kita ambil berbagai sumber, makna syahid sebenarnya sering disalahartikan.

Dalam agama islam, “syahid” itu ketika seseorang mati dengan meninggalkan banyak perjuangan dalam hidupnya, tentunya perjuangan-perjuangan dalam hal kebaikan dan kebenaran.

Jika diambil dari istilah tadi, banyak sekali yang kita kenal meninggal dalam keadaan syahid. Pahlawan nasional contohnya, dalam kehidupannya kita tahu semua pahlawan selalu memperjuangan kebaikan dan kebenaran. Tidak satu pun orang diberi gelar pahlawan tanpa melalui proses perjuangan.

Di Pulau Lombok yang kita kenal dengan Pulau seribu masjid, banyak yang dalam kehidupannya penuh dengan perjuangan, contohnya TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Tuan Guru Pancor) yang merupakan Pendiri Yayasan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Tanpa banyak penjelasan kita sudah tahu bahwa beliau adalah salah satu Guru terbaik bagi masyarakat Lombok. Salah satu kebaikan yang bisa kita lihat adalah ketika beliau memberi penghargaan kepada mahagurunya Maulana Syeikh Hasan Muhammad Al-Masysyath dengan memberi nama salah satu Pondok Pesantren di Desa Jenggik Kecamatan Terara, dengan nama “Al-Hasaniyah” (Pengikut Hasan). Kebaikan seorang Murid adalah ketika bisa menghargai gurunya. baca :mengapa-nkri-harga-mati

Terus apa hubungannya dengan pemimpin dan radikalisme?

Baiklah, di sini saya ingin memberikan beberapa gambaran tentang pemipin yang baik. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang senantiasa memiliki kebaikan dalam hidupnya. Memperjuangkan hak-hak orang yang dipimpinnya. Memberikan kesejahteraan, pendidikan dan memiliki kharisma.baca :2-rasa-modal-generasi-milenial-cegah-radikalisme

Selain sebagai guru dan pendiri sebuah Yayasan, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang sewaktu kecil sering dipanggil Muhammad Saggaf ini sebenarnya juga sebagai Pimpinan di Yayasan tersebut. Kepemimpinan beliau sangat kharismatik, selalu mengedepankan kepentingan orang banyak. Beliau juga selalu menunjukkan kesederhanaan.

Dari paparan cerita tentang seorang TGKH Zainuddin Abdul Majid, saya menarik suatu kesimpulan bahwa seorang pemimpin yang baik dan menghormati orang lain serta memiliki suatu kharisma, tidak akan pernah memberikan pendidikan yang bisa merugikan orang lain. Contohnya pendidikan yang mengarah kepada provokasi ataupun radikalisme.

Dalam setiap pesan yang disampaikan tidak ada yang ditemukan pendidikan tentang radikalisme. Namun selalu memberikan pesan untuk senantiasa berbuat baik. Bahkan dari cerita salah seorang Imam Masjid “Al-Ishlah” (dikenal dengan nama masjid Muhammadiyah) di desa Montong Baan Kecamatan Sikur Lombok Timur) menjelaskan, sosok Tuan Guru Pancor adalah pemimpin sekaligus guru bagi masyarakat lombok. Jika beliau tidak ada maka masyarakat lombok saat ini masih dalam kondisi awam akan pengetahuan tentang islam yang sebenarnya.

Jadi, Syahid yang sebenarnya adalah ketika bisa mengimplementasikan seluruh kemampuan kita dalam kehidupan dengan melakukan banyak perjuangan. Mencegah provokasi, isu radikal, atau sejenisnya. (Alfian)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *