Merawat PERSATUAN melalui pendidikan POLITIK

Beberapa hari terahir ini, saya sering berdiskusi dengan rekan saya yang kuliyah di salah satu PT (Perguruan Tinggi) Luar Negeri. Dia masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Ilmu Administrasi Negara. Dalam diskusi-diskusi itu, Dia banyak menyayangkan materi ilmu politik yang diajarkan di kampus Indonesia. Katanya, “Materi ilmu politik yang diajarkan masih terbatas pada pengertian normatifnya saja, padahal kita tahu bahwa itu adalah hasil olah pikir para pemikir politik, yang secara epistemik disebut sebagai sesuatu yang das sollen (yang harus ada). baca:pahlawan-modern

Dalam filsafat ilmu sosial dikatakan bahwa orientasi ilmu-ilmu sosial sama seperti ilmu alam yaitu, menghasilkan apa yang ada di realitas. Karena itulah, sebenarnya, materi ilmu politik yang diajarkan kepada kita itu, kehilangan sumber epistemiknya. Bukankah politik itu terjadi di realitas, bukan di dalam pikiran?”

Saya menganggap apa yang dikatakan rekan saya itu memang sebuah otokritik bagi dunia pendidikan kita. Mengingat, tidak sedikit sarjana-sarjana ilmu sosial-politik sangat minus penalaran politik yang aktual di dalam kehidupan bernegara. Apakah itu adalah sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh para dosen? dengan harapan menjauhkan generasi penerus dari cara berpikir yang tidak sehat, licik dan berorientasi kekuasaan semata. Entahlah, akan tetapi, kekhawatiran semacam itu justru menghasilkan bencana yang lebih besar, yaitu mereka yang diharapkan menjadi ilmuwan sekaligus pemimpin masa depan, tidak mengerti cara bermain para pendahulu mereka di kancah perpolitikan, pada ahirnya mereka sangat mudah dimainkan oleh para tokoh yang memang sudah tahu dan lihai dalam berpolitik.

Menarik juga untuk mempertimbangkan apa yang disampaikan oleh Vedi R. Hadiz , bahwa Ilmu Sosial dan Politik di Indonesia masih terombang-ambing di antara bayang-bayang otoritarianisme Orde Lama, Demokrasi dan Pasar. Menurutnya, Ilmu Sosial-Politik di Indonesia tertinggal jauh dari Negara-Negara tetangga seperti: Filipina, Thailand dan Singapura. Yang membedakan ilmu sosial di Indonesia dengan Negara-Negara lain adalah sisi independensi dan profesionalitas para ilmuwan sosial tersebut. Jika dulu pada masa Orde Baru, arah perkembangan ilmu sosial tergantung pada rezim yang berkuasa, maka wajar para ilmuwan tidak mampu berkutik untuk mengembangkan ilmu sesuai dengan logika ilmu tersebut. Akan tetapi, menjadi semakin rumit ketika Neoliberalisme pasar mulai masuk ke perguran tinggi dan lembaga-lembaga penelitian. Maka semakin jauh pula dari harapan untuk membangun otonomi keilmuan seperti yang diharapkan.
baca:dialogue-membuka-segel-kerukunan
Satu hal yang penting untuk digaris bawahi dari narasi di atas adalah otonomi keilmuwan dari suatu ilmu itu sangat penting bagi perkembangan itu sendiri, agar tidak selalu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. ilmu seharusnya menjadi cahaya bagi kehidupan, bukan menjadi cahaya bagi segelintir orang saja, untuk melancarkan rencana-rencana busuknya. Barangkali hal inilah yang tidak didapati oleh rekan saya di kampus tempatnya mengabdi. Dia tidak menemukan jalan keluar dari masalah politik yang dia lihat di Negara ini, karena apa yang diajarkan oleh dosen, adalah politik dalam maknanya yang ideal.

Mengapa Pendidikan Politik Itu Penting?

Jika anda sering menonton acara-acara yang berkaitan dengan politik di televisi, anda akan sering melihat perbedaan cara pandang dan pendapat dari berbagai tokoh. Tentu sebagai orang yang tidak tahu dan kenal dengan masing-masing tokoh itu, anda akan bingung untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Soalnya, kerapkali masing-masing pendapat yang muncul, sama-sama bisa dibenarkan. Di sinilah sikap kritis itu diperlukan. Dan di sini juga pemahaman politik itu sangat berperan untuk membentengi masyarakat dalam memberi penilaian. Tidak hanya itu, masih banyak kasus-kasus lain yang mudah diakses masyarakat melalui media yang sebenarnya mereka tidak mengerti bagaimana kejadian yang sesungguhnya.

Singkatnya, kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi melalui media itu, sangat mudah sekali dimanfaatkan oleh orang-orang yang haus kekuasaan. Mereka bisa memanfaatkan media untuk membangkitkan sentimen masyarakat. Artinya, tanpa bekal pola pikir yang kritis, melek nuansa perpolitikan beserta alat-alat yang bisa dimanfaatkan, maka sangat mudah sekali memecah belah bangsa ini. Saya masih ingat ungkapan W.S. Rendra yang disampaikan Gusmus di acara KickAndy. Katanya Rendra begini: “Masyarakat kita ini seperti daun kering, yang mudah sekali terbakar” Artinya, masyarakat Indonesia mudah sekali dikompor-kompori. Padahal orang-orang yang berdiri di luar pagar, sedang berdiri melihat kita sambil tertawa bahagia.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Tentu Karena kita tidak paham nuansa politik dan bagaimana orang-orang yang haus kekuasaan itu memainkan isu-isu tertentu untuk membuat kita saling benci satu-sama lain.

Pendidikan politik tidak hanya penting bagi akdemisi, melainkan juga bagi semua orang. Kenapa? Tentu dengan belajar ilmu politik kita akan semakin dewasa dalam bernegara. Kita tahu siapa apa dan peran kita dalam sebuah organisasi besar bernama Negara.

Di sinilah arti pentingnnya pendidikan politik bagi semua orang. Bukan rahasia lagi bahwa kita sering melihat betapa masyarakat sangat senang ketika pemerintah mengerjakan proyek tertentu.

Bagi masyarakat, program atau proyek itu seakan-akan hadiah dari pemerintah. Padahal kita tahu bahwa hal itu sudah menjadi tugas pemerintah. akan aneh apabila pemerintah tidak membuat proker (program kerja) selama masa pemerintahannya. Hal itu menunjukkan betapa pengetahuan masyarakat tentang politik sangat jauh dari kata ideal.

Jangankan menyadari kewajiban mereka sebagai warga negara, mengetahui haknya saja belum. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain yang menunjukkan betapa pendidikan politik masih sangat kurang di Indonesia.

Jadi, pendidikan politik itu menjadi penting ketika politik dilakukan dengan tidak sehat. Ketika politik tidak lagi menjadi sarana untuk mendistribusikan keadilan, melainkan sebagai arena untuk merebutkan kekuasaan. Kenapa? karena politik yang semacam ini hanya akan menjadikan masyarakat sebagai bahan politisasi. Kita tahu di Indonesia sekarang ini, politik sudah bukan lagi untuk masyarakat, melainkan untuk partai. Ketika kehidupan politik seperti ini, maka masyarakatpun mau-tidak mau akan ikut diseret ke dalam kelompok-kelompok tertentu. Hal inilah yang ingin kita hindari dengan memberi wawasan politik kepada masyarakat. Supaya masyarakat tidak membawa urusan politik ke urusan pribadi. Urusan politik memang mengharuskan kita berbeda, akan tetapi itu tidak boleh lebih dari jangkar kehidupan politik saja. Jangan sampai dibawa dalam kehidupa sehari-hari.

Sayangnya di desa-desa masih ramai kita temukan kejadian semacam itu. berangkat dari keadaan semacam itulah, pendidikan tentang politik menjadi penting, sebagai wawasan yang akan membentengi kebersatuan dan persatuan kita di tengah menjamurnya partai politik dengan kepentingannya masing-masing. Jika bukan kita yang memberikan wawasan politik kepada masyarakat, untuk mengantisipasi perpecahan karena perbedaan partai politik, lalu siapa lagi?

surya saputra

Do'akan kerjamu, Kerjakan Do'amu..!!!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *