Memaknai Konsep Pahlawan Digital

Saat medengar kata “Pahlawan” mungkin di kepalamu terbesit gambar wajah-wajah pejuang yang ditempel di dinding-dinding kelas di sekolah. Kalau ditanya maknanya mungkin jawabanmu akan mengacu pada seseorang yang melakukan berbagai hal yang besar untuk Indonesia.

Apa sebenarnya makna pahlawan?

Kata “pahlawan” sendiri berasal dari bahasa Sangsekerta “pahla.” Kata “pahla” berarti buah pala. Pala  merupakan salah satu rempah-rempah terpenting  dalam sejarah Nusantara.  Dalam buku Nataniel’s Nutmeg, New Amsterdam (sekarang Manhattan, New York) ditukar dengan Pulau Banda (Pulau Pala) di Maluku oleh Belanda kepada Inggris yang pada akhirnya menyebabkan Indonesia dijajah oleh Belanda. Pala adalah rempah serba guna. Bagi bangsa Eropa dulu, pala adalah rempah untuk mengawetkan daging sepanjang musim dingin pada saat kulkas belum ditemukan. Sedangkan bagi rakyat Maluku, buah ini tidak hanya berguna sebagai pengawet alami tetapi juga sebagai bahan obat-obatan untuk mencegah berbagai macam penyakit. Dari asal usul kata, bisa disimpulkan bahwa pahlawan adalah orang-orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Ada juga yang berpendapat bahwa kata “Pahlawan” sendiri berasal dari kata “pahla” dan “wan”. Pahla sendiri berarti pahala yang berarti hasil dari suatu perbuatan baik dan “wan” adalah suffix yang bila ditambahkan pada kata tertentu akan berarti “seorang.” Jadi secara literal pahlawan adalah orang-orang yang melakukan kebaikan.

Makna kata pahlawan tidak tergantung pada standarisasi yang ditulis oleh undang-undang, makna pahlawan sendiri tidak selalu berarti melakukan berbagai terobosan besar dan perubahan luar biasa. Makna pahlawan sendiri sangat sederhana. Setiap tindakan yang bernilai kebaikan adalah sebuah aksi kepahlawanan. Seperti saat kamu bertanya pada anak-anak kecil, siapa pahlawanmu? Dengan polos mereka akan menyebutkan, nama ibu, nama ayah, nama teman, saudara atau pun nama guru mereka.

Pahlawan digital, millennial dan techno-immigrant

Evolusi zaman akibat berbagai penemuan memunculkan berbagai istilah baru. Cara menyebarkan pesan-pesan kebaikan atau informasi-informasi yang bermaanfaat pun berevolusi, membuat aksi kepahlawanan tidak hanya terbatas di dunia nyata tapi juga merambah ke dunia digital. Pengguna dunia digital biasanya adalah mereka yang lahir di atas tahun 1991 yakni saat dan setelah internet ditemukan. Mereka biasanya disebut millenials. Sedangkan pengguna internet yang lahir di bawah tahun 1991 disebut techno-immigrant. Baik millennial ataupun techno-immigrant yang menggunakan internet dengan tujuan positif dapat dikategorikan sebagai pahlawan digital terutama bagi mereka penyebar konten-konten positif dan informasi yang sifatnya empowering bagi masyarakatnya. Sosok pahlawan digital bisa dilacak keberadaannya, bisa jadi mereka menggunakan nama pena, nama kecil ataupun nama asli mereka di dunia digital.  Banyak dari mereka yang juga lebih memilih menjadi anonymous, bergerak dengan nama tertentu.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh International Journal of Communities and Social Networking, salah satu social media seperti face book dengan jumlah pengguna hampir 2 Milyar tidak disebut lagi sebagai “cyber world” karena faktanya social media tersebut merupakan an extention of the offline life. Face book membantu penggunanya untuk mengekspresikan diri, membagi informasi  dan bahkan digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan paham radikalisme dan terorisme.

Penelitian ini mengklasifikasikan pengguna facebook ke dalam empat kategori.  Kategori yang pertama adalah relationship builder. Istilah ini ditujukan untuk pengguna yang memakai facebook dengan tujuan membangun hubungan yang lebih erat dengan orang-orang sekitarnya. Yang kedua adalah window shopper, pengguna yang memakai facebook untuk berbelanja. Ketiga adalah selfies, terkadang kategori yang ketiga ini terlihat seperti relationship builders dengan memposting berbagai photo, video dan sebagainya untuk menarik perhatian. Biasanya pengguna yang masuk dalam kategori ketiga ini semakin banyak like yang mereka dapatkan mereka akan merasa lebih diterima oleh teman-temannya.  Kategori yang keempat adalah untuk pengguna yang memanfaatkan facebook sebagai media untuk menyebarkan informasi tertentu untuk melawan dan memberikan hak rakyat atau pembacanya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitarnya, di daeerahnya ataupun di negara dan di dunia pada umumnya, misalanya seperti journalist, activists atau Duta Damai Indonesia. Kategori terakhir ini sering kali menggunakan memes, videos ataupun tulisan untuk menyampaikan pesan-pesan positif untuk mencapai tujuannya. Kategori terakhir ini disebut town criers.

Sebagai millenials ataupun sebagai seorang techno-immigrant, setiap pengguna memiliki twist dari setiap kategori yang disebutkan dan tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda. Menurut hematmu kategori apa yang lebih dominan dalam dirimu? Jika kamu adalah penebar konten-konten positif di dunia maya, anti radikalisme dan terorisme kamu pastinya masuk dalam golongan terakhir.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *