Masyarakat Madani (Fenomena Ke-Ber Agama-an Kita)

“When you know that the devil does not forget about you, do not forget about him in whose hand is your forelock” (Ibnu Atha’illah Al-Iskandari)

Euforia keberagaman umat beragama saat ini semakin terlihat dan meruncing pada makna simbolik semata, tak ubahnya umat beragama yang selalu beramai-ramai, saling bahu-membahu membangun sebuah tempat suci, namun digunakan sebagai tempat maksiat, provokasi, propaganda, bisnis ayat suci, arisan tuyul, mencela orang lain, meludahi dan mengencingi nilai-nilai luhur dalam agama itu sendiri.

Gagasan tentang masyarakat madani, yang sejalan dengan nilai-nilai keindonesiaan kita, kini mendapati titiknya yang semi negatif, dimana masyarakat madani yang niscaya tidak berseberangan dengan ideologi negara digeser menjadi makna madani ala Jahili, dan terkadang definisi tersebut terkesan dipaksakan sesuai kepentingan golongan tertentu.

Jika mau jujur, kira-kira, makhluk Tuhan yang mana yang tidak ingin hidup damai ?, saya kira hewan, tumbuhan, bahkan hewan yang berakalpun (manusia), sangat mendambakan hidup dalam suasana yang damai, minimal berdamai dengan diri sendiri, agar tidak merusak kedamaian orang lain, jika dengan diri sendiri saja kita tidak bisa berdamai, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesuatu yang berada diluar diri kita. Singkat kata damai itu ibarat menara gading yang kita impikan namun tak kunjung meninggi sebab kita belum mampu berdamai dengan diri kita dan mereka yang berbeda dari kita.

Apa sebab menara perdamaian yang mulia itu tak kunjung menjulang tinggi di Nusantara ini ?

Banyak faktor yang melatar belakangi hal itu, mulai faktor sosial, politik, budaya, ekonomi, dan pemikiran. pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal pemikiran, sebab pemikiranlah strating point peradaban manusia bermula, soal pemikiran siapa dan bagaimana pemikirannya, itu soal lain.

Gagasan “Bhineka Tunggal Ika” dalam negara demokrasi dibangun atas dasar kebersamaan, makna kebersamaan ini cenderung terusik dan terdistorsi, manakala sudah masuk pada ranahinterpretasi dan definisi, padahal, sejak awal kemerdekaan Indonesia perbedaan tersebut sudah head to head  satu sama lain, misalnya perdebatan antara Soekarno dengan Muhammad Natsir dalam konsep Indonesia yang akan dibangun pasca merdeka, kala itu Soekarno berpendapat bahwa  negara harus dibangun atas dasar nasionalisme dan humanisme, negara harus untuk semua, bukan golongan Islam, Kristen, atau golongan tertentu saja, sementara Muhammad Natsir berpandangan bahwa negara harus dibangun berdasarkan Islam[1].

Dari perdebatan yang termuat singkat diatas, kita dapat memahami bahwasanya pondasi kenegaraan yang dibangun para sesepuh bangsa ini, sama sekali berbeda, namun dibalik itu hadir pula kesamaan yang tak dapat ditolak dengan dalil apapun, misalnya persamaan pada butir-butir pancasila, pun halnya dengan kita yang lahir dan besar saat ini, seyogyanya kita harus memaknai perbedaan yang lumrah tersebut sebagai sebuah potensi besar menuju masyarakat madani.

Dari sisi keislaman, dalam sejarah peradaban umat Islam, tentu kita tak bisa bantah perbedaan yang menyelimuti ajaran Islam, akan tetapi semua itu mampu dirajut, diramu, dan di akomodir melalui tangan dingin baginda yang mulia Muhammad SAW, sehingga tak ada ruang sarkastis, prilaku barbar, penistaan ulama, bahkan pelecahan terhadap hukum yang berlaku, walaupun pada sisi yang lain, sebagian orang memberikan konotasi negatif terhadap prilaku nabi pada masa-masa dakwah Islam melalui angkat senjata, ia diidentikkan sebagai sebuah kekerasan Islam dalam merebut kekuasaan.

Lebih jauh mengenai perbedaan, Muhammad Sayyid Thantawi mengutarakan, asal muasal sebuah perbedaan ialah, (1) Tidak mampu memahami permasalahan, (2) Bertaqlid tanpa dasar dan dalil, (3) Fanatisme terhadap suatu pendapat, sikap dengki kepada orang lain, tamak kepada kepentingan tertentu tanpa melihat yang lain, mengikuti hawa nafsu, dan individualis[2].

Kecenderungan umat beragama saat ini, khususnya di Indonesia masuk 3 point diatas, bagaimana tidak, hanya persoalan politik pemilihan gubernur, umat Islam seindonesia dipaksa bergejolak sampai tukang sapupun diarahkan untuk ambil bagian saat momentum itu terjadi, bukankah ini berarti kita tidak mampu memahami permasalahan, kita belum mampu memahami kata “Tafsir” kita belum mampu memilih serta memilah bagian yang profan dan sakral dalam hidup kita ?.

Mengenai hal ini, Abdul Munir Mulkhan menyatakan “tak kan pernah ada tafsir tunggal atas Islam, Qur’an, atau Sunnah, permasalahannya ialah apakah setiap pihak siap berdialog dengan pihak lain, tanpa harus memberikan klaim sepihak atas dirinya ataupun orang lain”[3].

Pun halnya dengan kehadiran para tukang teror, yang konon mereka siap mati dengan reward bidadari di surga kelak, mereka siap mati atas nama khilafah Islamiyah, bukankah cara-cara seperti ini akan paradoks dengan cara dakwah Nabi ?, apalagi tatkala mereka menggunakan dalil-dalil Qur’an dan hadits sebagai pembenaran atas sikap barbarisme mereka, seakan-akan hanya dalil mereka saja yang paling benar, maka benarlah sabda Nabi yang mengatakan “Al ‘ilmu ‘ilmaani ‘ilmun fil qalbi fa dzaalika ‘ilmun naafi’ wa ilmun ‘alal-lisaani fa dzaalika hujjatullaahi ‘alaa ibni aadam (ilmu itu ada dua yaitu ilmu dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu yang ada pada lisan yang menjadi alasan atau hujjah Allah atas manusia)[4].

Belum lagi fenomena jegal-menjegal para elit politik, kisruh para anggota DPR yang berebut proyek, dan tawuran pemuda yang konon menjadi penerus perjuangan tokoh bangsa dan agama, bahkan fenomena yang lama namun sering diperbaharui jika ada monetum ialah klaim liberal, syi’ah, antek asing, kafir terhadap sesama manusia sebangsa dan seagama. Pertanyaannya, kita dapat apa dari saling intrik, saling caci, saling perang urat syaraf itu ? bukankah dalam Q.s. Huud ayat 118-119 Allah sudh jelas menyatakan : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu ia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmmu. Dan untuk itulah Allah menetapkan mereka”.

Berkaca dari maraknya kasus yang menderu bangsa ini, seharusnya sebagai muslim tidak perlu disikapi secara berlebihan, tentunya dengan tidak saling olok-olok, menggunjing, saling intrik, saling sikat dan sikut antar umat seagama, lebih-lebih saling menjelek-jelekkan antar aliran, inilah makna masyarakat Madani, umat yang berperadaban, umat yang beradab, masyarakat dengan nilai humanisme yang tinggi, karena memang Islam sejak baru menjadi agama mengajarkan kita perdamaian, bukan perselisihan. Walaupun pada kenyataannya kita tidak bisa menutup mata dengan adanya segelintir orang atas nama Islam menggunakan kekerasaan dalam berdakwah.

Dari ulasan singkat tersebut, kiranya kita bisa memahami bahwa, Islam hadir dengan segala bentuk perangkatnya mengajarkan kita pondasi beragama dan bernegara yakni nilai-nilai Universal, dengan dinding akhlakul karimah, serta atap yang sejuk serta nyaman untuk semua kalangan, yang tertuang dalam syariat-syariatnya, dengan demikian kecenderungan ketidakpedulian keberagamaan pada problem kemanusiaan akan terjawab dengan sendirinya.

==============

[1]Muhyiddin Arubusman “Terorisme Ditengah Arus Global Demokrasi”, cetakan 1, (Jakarta: SPECTRUM, 2006), hlm. 11

[2]Muhammad Sayyid Thantawi, “Etika Dialog Dalam Islam”, Penj. Ahmad Zamroni Kamali dan Abdul Hafidz bin Zaid, cetakan 1, (Jakarta : MUSTAQIIM, 2001), hlm. 21-24

[3]Abdul Munir Mulkhan ”Kesalehan MULTIKULTURAL: Ber-Islam Secara Autentik-Kontekstual di Aras Peradaban Global”, cetakan 1 (Jakarta: PSAP, 2005), hlm. 125

surya saputra

Do'akan kerjamu, Kerjakan Do'amu..!!!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *