Kisah Seekor Domba

Pada suatu hari dimusim hujan, ketika titik-titik air mulai menyelinap turun dari celah-celah awan membasahi jalan, pada saat itulah rumput-rumput bergirang diri, dan bersuka ria setelah musim kemarau panjang memaksanya berjuang melawan kerasnya terik panas matahari. Kesabaran mereka menjalani hari-hari sulit, terlupa begitu saja, bahkan berganti rasa bahagia yang tiada taranya. Tak ada yang mereka tau selain menikmati anugerah itu meskipun hanya beberapa waktu, mereka mencoba meyakinkan diri bahwa inilah yang mereka harapkan, dan mencoba melupakan apa saja yang telah mereka alami dan rasakan sebelumnya, karena memang, panas dan dingin sama-sama siklus musim yang tak kuasa mereka tolak. Mereka bukanlah barisan para saintis yang bisa menciptakan Hujan buatan ataupun yang mampu menciptakan alat untuk menghancurkan gumpalan awan agar tak terjadi hujan. Mereka adalah makhluk yang paling sangat terpaksa menjalani hidupnya, seandainya Ia tidak diadakan, mungkin jauh lebih baik baginya. Betapa tidak, Hidupnya hanyalah pelengkap bagi kelangsungan hidup yang lain. Mereka hanyalah pemuas rasa lapar bagi para domba dan binatang-binatang yang kelaparan. Tak jarang pula mereka menjadi tempat manusia membahagiakan dirinya, mereka lelah dan mati karena terinjak-injak, sementara manusia berteriak lega diatas penderitaan mereka. Sungguh aneh memang..!!! hidup ini sangat aneh kawan…!!! Seaneh cerita yang akan anda saksikan dibawah ini…!!! baca:pemimpin-syahid-tanpa-jejak-radikalisme
****
Kala itu, seorang pengembala mendatangi domba-dombanya dengan sekarung rumput segar yang dibawa dari sawah, seperti biasa, kedatangannya sore itu, untuk memberi domba-dombanya makan. Setelah si pengembala menumpahkan sekarung rumput, dia kemudian pergi entah kemana. Sementara domba-domba putih yang berbulu tebal, kelihatan antusias dan bersemangat menyantap rumput-rumput baru yang kelihatan muda dan segar yang dibawa pengembalanya dari sawah. Bahkan saking semangatnya, mereka lupa cuci tangan dan berdo’a. apalagi sampai berpikir dulu, sama sekali mereka tak peduli, yang terpenting mereka diberi makan ya sudah langsung eksekusi,setelah itu rekreasi di alam mimpi, Domba-domba itu sama sekali tidak mau tau, darimana pengembalanya mendapatkan rumput, apakah hasil curian disawah orang atau mungkin habis disemprot racun sama pemilik sawah, mereka tidak mau ambil pusing, yang penting makan, abis itu tidur atau memuaskan nafsu birahi. baca :semangat-pemuda-dalam-catatan-seorang-demonstran

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali si pengembala datang ke kandang para domba, tapi kali ini si pengembala tidak datang dengan sekarung rumput seperti biasanya, justru dia datang membawa satu domba baru yang masih muda. Kelihatannya domba yang satu ini cukup ganteng, pantas saja domba betina yang lebih senior itu begitu lama memperhatikannya. Sekarang kamu gabung bersama mereka ya, sementara saya akan pergi mencarikanmu makanan segar dan bergizi tinggi supaya kamu cepat besar dan gemuk, tentu saja agar hargamu cukup tinggi di hari-raya kurban nanti. “Tutur si pengembala menasehati Domba-dombanya” saya akan membawakan rumput segar buat kalian nanti sore, rumput-rumput baru yang sudah saya pesan dari luar negeri, terutama rumput-rumput dari eropa barat yang sudah kesohor segarnya, dan sedikit rumput-rumput yang saya pesan dari arab, Pakistan dan sekitarnya, satu lagi buat kamu yang baru datang, jangan nakal ya, , hormatilah senior mu meskipun dia menyakitimu. Bersabarlah…!!! Mungkin sekarang kamu tidak betah disini, tapi yakinlah, lama-lama kamu akan terbiasa. “Kata si pengembala mengahiri petuahnya, kemudian pergi entah kemana”.

Setelah kepergian si gembala, domba-domba mulai melakukan aktifitasnya masing-masing, ada yang bernyanyi, ada yang membaca puisi, bahkan ada juga yang sedang berusaha menyeruduk pagar kandang tempat mereka menghabiskan masa hidupnya didunia, tentu saja disamping itu ada yang tidur-tiduran sambil bersiul-siul, menunggu makanan datang dari majikan. Sementara itu, ada satu domba yang kelihatan menyendiri di salah satu sudut kandangnya. sepertinya itu adalah si Domba Baru.

Melihat kejanggalalan yang ditimbulkan dari raut wajah si Domba Baru, si Tanduk Patah menghampirinya, dan berusaha mengorek informasi perihal apa yang telah membuatnya menyendiri dan terlihat murung seperti itu, bahkan raut wajah mudanya begitu kusut kelihatan menua karena bermuram durja dan nyaris menitikkan air mata.

Pada moment inilah, terjadi dialog filosofis antara dua domba dalam kandang:

Tanduk Patah: Ada gerangan apakah anak muda? Sehingga dirimu begitu gelisah ditempat yang indah bagai surga ini…!!!

Domba Baru: hehhh,,, “dia membalikkan badannya” tidak ada apa-apa pak tua,

Tanduk Patah: sudahlah anak muda, tidak perlu kau membohongi dirimu dengan membohongiku, katakan saja, apa masalahmu, mungkin saja ada yang kamu perlukan, yang mungkin bisa saya lakukan. Kamu tidak perlu malu padaku, katakan saja apapun yang ingin kamu katakan, aku berjanji tidak akan menceritakannya pada yang lain. “begitu si Tanduk Patah meyakinkan Domba Baru”

Domba Baru: pak tua, kenapa anda merasa betah disini?

Tanduk Patah: hehehe betah,,, tidak anak muda, dugaan mu sama sekali keliru jika kamu mengasumsikan bahwa kami santai saja disini berarti kami betah. semua hewan yang di piara kayak kita ini, pasti tahu, bahwa keberadaan kita disini, bukanlah suatu pilihan yang harus kita tentukan sendiri, yang sesuai minat dan kecenderungan kita masing-masing. Semua ini memang tidak bisa kita lawan nak. Kita sebagai bangsa hewan, hanya bisa pasrah, menuggu ajal kita tiba, dan daging-daging kita di jual belikan dipasar-pasar daging.
“mendengar cerita si Tanduk Patah, Domba Baru seperti merinding ketakutan, entah apa yang dia pikirkan sehingga tiba-tiba jatuh lemas dan menyandarkan badannya di pagar kandang tempat mereka menghabiskan sisa hidupnya”

Domba Baru: pak tua, apakah memang benar, puncak keberadaan kita berahir ditangan jagal-jagal sadis itu.

Tanduk Patah: dengarlah anak muda. Tidak ada mahkluk yang paling egois dan mau menang sendiri selain dari manusia, siapa lagi kalo bukan manusia yang selalu merasa paling tau bagaimana menemukan kebahagiaan, bahkan mereka dengan sombongnya mengatakan bahwa kita sebagai binatang, memang sudah kodratnya dimanfaatkan sebagai pemenuh sandang pangan mereka.

Domba Baru: iya juga pak tua, manusia memang sok tau. Dia pikir kita senang dikurung seperti ini. lagi pula, si pengembala itu sok merasa jadi pahlawan dengan mencarikan kita makan, padahal kalo saja dia membiarkan kita hidup ditempat kita semula yaitu hutan. Justru kita akan lebih bahagia menjalani hidup kita. dan memang pak tua, sepanjang hidup saya, baru kali ini saya hidup dalam kandang, selama ini saya hidup dihutan, justru dengan hidup di Hutan, saya merasa lebih puas dan cukup bahagia menjalani hidup saya, bukankah tujuan kita hidup adalah untuk mencari kebahagiaan? Lalu kenapa kita tidak dibiarkan mencari kebahagiaan sendiri? padahal saya paling tidak tahan dengan kehidupan seperti ini, saya lebih senang dengan hidup saya dulu, tidak ada yang mengikat saya, hidup saya adalah milik saya. Tapi setelah saya berada disini, saya sudah dahulu merasakan kematian sebelum parang jagal menyobek leher saya. Itulah yang membuat saya murung seperti ini pak tua, saya tidak menemukan hidup saya disini. Ini bukan dunia saya. Dunia saya dunia bebas tanpa tuan selain Tuhan. tuan saya hanya Tuhan, hanya Tuhan yang berhak saya takuti. Bukankah masing-masing mahkluk punya cara tersendiri dalam mematuhi Tuhan. tapi kenapa manusia dengan seenaknya mengklaim bahwa dialah yang berhak menjadi mandataris Tuhan, “Domba Baru berapi-api mencurahkan kekesalannya atas kecongkakan manusia”
Pak Tua, maukah kamu menolong saya keluar dari tempat membosankan ini. saya mau keluar dari sini. Saya ingin hidup, bergaul, ber-agama dan ber-Tuhan dengan cara saya sendiri. tolonglah saya pak tua.

Tanduk Patah: Tidak bisa anak muda, apa yang telah kamu katakan tadi bukan tidak pernah saya katakan dulu, dulu saya juga berpikir begitu dan saya ingin sekali pergi meninggalkan tempat ini. dulu seekor teman, pernah menyuratiku, katanya dia berada disebuah tempat yang baik, meskipun dia dijaga ketat, bahkan dengan kawan berduri yang dialiri setrum tapi dia memiliki kebebasan untuk melihat terbit dan terbenamnya sang mentari, dia bisa menyaksikan bagaimana hempasan ombak dilautan. Berita dari teman itu semakinmembuatku ingin pergi dari tempat ini, dan segera ke tempatnya. Katanya dia tidak berada jauh dari sini. Tapi, setelah saya tahu bahwa tempat ini dibatasi oleh pagar-pagar yang sangat kuat, maka semua harapan dan cita-cita saya untuk pergi ketempat yang diceritakan teman itu, saya mencoba menenangkan diri dan berusaha untuk menrima bahwa inilah kenyataannya, kalo gak salah manusia menyebut sikap saya ini dengan kata Qona’ah, menerima keadaan. Dan pada saat itulah saya berpikir, sekali masuk kesini, maka tidak ada lagi yang mampu kau lakukan, selain menikmati sisa hidupmu.

“mendengar keterangan si Tanduk Patah, Domba Baru terdiam lesu, pandangannya kosong meskipun kelihatannya jauh menatap kedepan, Si Tanduk Patah ahirnya pergi meniggalkannya, sembari berkata, “Anak muda, jangan habiskan waktumu untuk meratapi takdir, tapi manfaatkanlah sisa umurmu sebaik-baiknya, jika kamu ngantuk, lebih baik kamu tidur atau kamu bersenang-senang dengan yang lain. Mendengar Nasehat itu, Si Domba Baru bukan malah terhibur dan melupakan kegelisahannya, justru ia merasa semakin tertantang. Bahkan, dalam lubuk hatinya yang paling mendasar, Domba Baru sangat benci kepada manusia. Tapi tidak kepada semua manusia, kecuali manusia-manusia yang merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan makhluk lain, manusia yang merasa sok bisa membahagiakan Domba dengan mengurung mereka. Manusia yang selalu merasa benar dengan tindakannya. Manusia yang merasa menjadi tangan kanan Tuhan.

Sebenarnya, saya bukannya tidak mau ditempat ini, Gumamnya dalam hati, tapi jika saya diperlakulan seperti benda mati yang dipaksa memakan semua rumput yang dibawa pengembala, saya kurang setuju. Rumput yang saya anggap enak belum tentu diketahui si pengembala, tapi mengapa dia bersikukuh, memberi rumput yang menurutnya baik. mungkin itu baik menurut dia, tapi yang makan bukan dia. Memang benar kata pak tua itu, manusia memang egois dan merasa paling tau.

Bagaimanapun, Si Domba Baru mengutuk manusia. dirinya tetaplah seekor Domba yang sampai kapanpun tidak akan mampu merubah takdirnya sebagai hewan piaraan yang dipaksa memakan rumput yang dianggap segar bagi pengembalanya. sekali Domba masuk kekandang Domba selamanya ia milik Tuannya, beda dengan Domba yang masih berkeliaran dihutan, hidupnya seutuhnya adalah miliknya. Rumputnya adalah semua rumput, karena yang tau rumput yang baik bagi Domba adalah Domba itu sendiri

surya saputra

Do'akan kerjamu, Kerjakan Do'amu..!!!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *