ISLAM & ESENSI PERSAUDARAAN

“Min Husni Islamil Mar’i Tarkuhu Maa La Ya’niihi” (Tanda bahwa baiknya keislaman seseorang adalah ia segera meninggalkan apa yang tidak bermanfaat)

Pada 10 Juli 2017, Presiden Jokowi dan wakilnya Jusuf Kalla secara resmi mengeluarkan Perppu tentang Ormas . Banyak pihak yang menilai Perppu tersebut sarat dengan kepentingan politik. Perppu itu pun menjadi perbincangan hangat dan menyeret banyak pihak ke gelanggang perdebatan. Baik akademisi, pejabat Negara maupun masyarakat biasa terpecah menjadi dua kubu yang berbeda, yaitu kubu yang pro dan yang kontra. Pertanyaan besar yang mengapung dalam benak para penolak Perppu itu adalah, latar belakang yang melandasi keluarnya Perppu belum jelas, sehingga prosedur keluarnya Perppu dinilai inkonstitusional.

Sementara bagi yang menerima atau mendukung keluarnya Perppu menganggap bahwa, langkah pemerintah sudah sangat tepat, sebagai tindakan preventif untuk menjaga keutuhan NKRI dari virus-virus laten yang sebenarnya sudah mulai berani menampakkan diri dan dengan terang-terangan mempropagandakan gerakan anti Demokrasi dan Nasionalisme yang nota benenya telah menjadi konvensi kita dalam menjalani kehidupan bernegara.

Kendati pun banyak pihak yang menolak hadirnya Perppu no 2 tahun 2017 tentang ormas tersebut, pada tanggal 24 Oktober Tahun 2017, melalui rapat Paripurna di Parlemen, DPR mengesahkannya menjadi Undang-Undang.

Barangkali niat Presiden mengeluarkan Perppu itu baik, yaitu untuk menjaga keutuhan Negara ini. Akan tetapi, banyak pihak yang menilai bahwa tidak baik secara politik, karena “terkesan” mengadu domba rakyat dengan cara menguntungkan pihak tertentu. Maka wajarlah, jika bermunculan suara-suara miring kepada Pemerintah, misalnya tuduhan bahwa Perppu itu sarat kepentingan politik, dan bahkan sebagian orang menilai presiden sedang belajar menjadi pemerintah yang otoriter dan anti Demokrasi.

Apapun itu, palu sudah diketuk, wakil rakyat telah mengangguk untuk menjadikannya sebagai Undang-Undang.

Sebenarnya, yang begitu mengkhawatirkan kita semua dan terutama pemerintah sehingga mengeluarkan Perppu adalah ancaman-ancaman disintegrasi dari propaganda-propaganda yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, yang secara ideologis memang mengancam keutuhan NKRI.

Keberadaan mereka tidak hanya bersifat potensial, melainkan telah aktual, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Karena itulah, kita sebagai orang yang merasa cinta pada Negara ini, sudah seharusnya merasa ikut bertanggung jawab dan dengan terbuka untuk saling mengingatkan satu sama lain, bahwa menjaga keutuhan NKRI jauh lebih penting dari pada membangkitkan gerakan-gerakan politik identitas semu dan ambigu. Kenapa semu dan ambigu? Karena para propagandis itu selalu memainkan isu-isu agama untuk menyihir masyarakat.

Menurut mereka, Gerakan yang mereka lakukan atas nama Agama itu adalah bentuk Jihad Fi Sabiilillah. Perjuangan mereka untuk mendirikan Negara Agama adalah perjuangan Ilahi. Dan parahnya, hanya karena kita tidak setuju dan bergabung dengan mereka, lalu dengan serta-merta mereka menganggap kita sebagai musuh Tuhan dan Nabinya. Padahal kalau mau jujur, yang kita musuhi bukan Tuhan dan Nabinya (sebagaimana yang mereka klaim) yang kita tentang dan musuhi adalah pandangan mereka.

Berangkat dari itulah saya berkesimpulan bahwa, ada persoalan mendasar yang perlu kita bahas tuntas sampai ke akar-akarnya. Paling tidak melalui seberkas tulisan seperti ini. Apa itu? yaitu mengenai makna dari sebuah ikatan persaudaraan.

Idealnya memang kita perlu untuk bersila bersama-sama. membicarakan apa itu persaudaraan? Apa saja yang menjadi indikatornya sehingga orang bisa disebut bersaudara? Untuk apa membicarakannya? Tentu supaya memahami secara jelas dan bernas siapa ssebenarnya saudara kita, apa yang membuat kita bersaudara dan persaudaraan macam apa yang perlu kita perjuangkan dalam kehidupan yang sementara ini.

Barangkali tidak terlalu sulit untuk dipahami bahwa kecenderungan kita dalam memilih sesuatu, tidak pernah lepas dari sejauh mana kita mengatribusikan diri pada sesuatu tersebut. Jika hal ini yang terjadi, maka itu adalah tanda bahaya. Kenapa? karena perasaan menjadi bagian (Sense Of Belonging) dari sesuatu adalah perasaan primordial kita, yang kerap turut mempengaruhi kita dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan. Jika hal ini tidak dipahami dengan baik, bisa membuat kita tidak proporsional dan jernih dalam memandang sesuatu. Dengan kata lain, selama kita fair dan adil dalam memandang sesuatu, selama itu juga kita tidak akan pernah objektif dalam memberi penilaian dan mengambil keputusan.

Nah. area sensitif inilah yang dijadikan starting point dan ditunggangi oleh para tentara Tuhan untuk membius masyarakat awam dan kaum muda yang baru belajar soleh agar ikut dalam barisan mereka yang menentang NKRI.

Perasaan yang tumbuh dalam hati mereka yang belum sempat belajar mendalam dan memiliki wawasan luas akan sangat mudah termakan dan terhasut oleh indoktrinasi yang dipropagandakan oleh oknum-oknum tertentu, yang sejatinya menjadi musuh dalam selimut di Negara ini. Yang seringkali dipahami sebagai rasa kebersaudaraan yang sesungguhnya, yaitu sebuah dorongan yang membuat kita merasa menjadi bagian darinya. Inilah yang perlu kita waspadai dari oknum-oknum yang mencaplok identitas agama dalam gerakan-gerakan dan propaganda mereka.

Karena potensi hegemonik dari simbol-simbol dan atribut-atribut yang mereka gunakan itu sangat berpotensi membuat orang tersihir dan secara langsung merasa menjadi bagian darinya secara buta.

Berdasarkan hal itulah, maka sangat beralasan mengapa persoalan ini perlu dibahas kembali, mendiskusikannya dengan kepala dingin, pikiran yang jernih dan terbuka (open Minded). Ada satu pribahasa dalam bahasa arab yang sedikit-banyak berkaitan dengan persoalan di atas, bunyinya begini: “Al-Haqqu Yu’rofu Bi Al-Daliil Laa Bi Al Katsiir Wa Laa Bi Al-Qoliil” (kebenaran itu diketahui dengan dalil, bukan karena sedikit atau banyaknya orang yang setuju). Artinya, meskipun semua orang mengatasnamakan dan menggunakan atribut Agama dalam gerakan-gerakannya, jika belum jelas dasar-dasarnya, maka belum bisa dikatakan sebagai kebenaran. Dan karena belum bisa dikatakan benar, maka kita tidak punya alasan untuk mengikutinya.

Persaudaraan sesama Islam atau persaudaraan dalam pandangan Islam?

Istilah persaudaran dalam Islam telah mengalami peyorasi makna sedemikian rupa, di mana hal itu hanya dipahami sebagai persaudaran sesama umat Islam saja. Dan sialnya, istilah yang mengalami penyempitan makna inilah yang selalu digaung-gaungkan oleh para tentara Tuhan itu untuk membangkitkan emosi masa. Mereka sangat lihai memainkan kata dan retorika sehingga istilah yang keliru ini mampu mengaduk-aduk emosi orang Islam, terutama mereka yang tidak mau memahami Islam secara rasional dan ilmiah, yang ketika mendengar istilah-istilah Islami dengan serta-merta dipahami sebagai ajaran Islam yang sesungguhnya.

Begitu juga yang terjadi di kampus-kampus, yang menjadi salah satu tempat mereka memasarkan pandangan radikal dan intoleransinya. Tentu sasaran mereka adalah kaum muda yang memang tidak pernah serius belajar agama sejak dini atau kalau memang banyak menerima pendidikan agama sejak kecil, tapi biasanya cenderung rigid dan kaku. Oleh karenanya, hanya dengan sekali sentuhan doktrin-doktrin agama, otak mereka berhasil dicuci bersih dan pada titik itulah mereka masuk dalam perangkap pencucian otak (Brain Washing) menggunakan atribut-atribut agama.

Jika Memang, Makna Persaudaraan Di Atas Tidak Tepat, Lalu Apa Makna Persaudaraan Yang Sesungguhnya?

Pertama-tama saya harus akui bahwa pengetahuan Agama saya, sangat jauh dari kata mumpuni, karena itulah, untuk keperluan ini saya berguru pada ahlinya. Atau paling tidak belajar melalui buku-buku yang ditulis oleh orang yang memang sudah diakui kedalaman ilmu agamanya. Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengacu pada buku Prof. Quraish ShihabWawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudu’I Atas Pelbagai Persoalan Umat” Ketika berbicara mengenai Ukhuwah, Prof. Quraish Shihab mengawalinya dengan meluruskan keslahpahaman orang tentang makna istilah tersebut, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa istilah persaudaraan dalam khazanah Islam, telah dikacaukan maknanya sedemikian rupa. Jika Ukhuwah Islamiyah hanya dipahami sebagai persaudaraan sesama Islam saja, berarti kita telah menyempitkan cakupan makna persaudaraan itu sendiri. dan itu bertentangan dengan apa yang kita lakukan setiap hari melalui corong, meneriakkan lantang bahwa islam adalah agama yang komprehensif, universal dan tentu rasional.

Dalam buku yang sama, Prof, Quraish menyatakan bahwa “Paling tidak, ada dua alasan mengapa Ukhuwah Islamiyah lebih tepat dipahami sebagai Persaudaraan dalam pandangan Islam: Pertama, Al-Quran dan hadis memperkenalkan bermacam-macam bentuk persaudaraan. Kedua, karena alasan kebahasaan.

Di dalam bahasa Arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminin, kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata ukhuwwah Islamiyyah dan Al-Ukhuwwah Al-Islamiy”.

Selanjutnya, dalam buku yang sama juga, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata Akh, yang secara leksikal berarti saudara, disebutkan sebanyak 52 kali dalam Al-Qur’an dalam bentuk tunggal. Sementara Secara terminologi, kata ini memiliki beragam arti, di antaranya adalah:

1). Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti dalam Q. S. Al-Nisa’ ayat 23.
2). Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, seperti bunyi doa Nabi Musa a.s. yang diabadikan dalam Q.S. Thaha: 29-30.
3). Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama. seperti dalam QS Al-A’raf: 65.
4). Saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham. seperti dalam QS Shad : 23.
5). Persaudaraan seagama. Ini ditunjukkan dalam AL-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 10.

Jadi, berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa, makna persaudaraan dalam Islam sangat luas. Salah besar jika memahami persaudaraan (dalam pandangan Islam) hanya sebatas pada persaudaraan seagama saja.

Pertanyaannya adalah makna persaudaraan yang manakah yang harus diprioritaskan, dibela mati-matian sampai mati?

Sebenarya, tidak ada yang paling prioritas di antara kelima cakupan makna tersebut. Bahkan kalau kita baca Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarroh ayat 213, dengan jelas dikatakan bahwa “Manusia adalah umat yang satu”. Yang perlu kita ingat adalah, substansi hidup dalam pandangan Islam tidak terletak pada ke golongan mana kita berafiliasi, apakah golongan islam atau kafir, melainkan bagaimana kita hidup di antara golongan-golongan itu. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W. “Khairu An Naas Anfa’uhum Li An Naas“ (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia). Tentu kita bisa menafsirkan hadits tersebut, kata manusia yang kedua itu mengacu pada makna saudara dalam arti yang mana? Yang jelas, redaksi Hadits itu tidak berbunyi “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang beragam Islam”. Tafsir yang paling mungkin di acu oleh kata manusia itu adalah kalau bukan saudara setanah air, maka saudara sesama manusia. atau semua manusia, lintas Benua, Negara, Agama, Bangsa dan lain sebagainya.

Maka, berdasarkan uraian di atas, sangat jelas bahwa kita semua bersaudara. Islam memberikan legitimasi persaudaraan kepada semua orang, entah karena Agama, Bangsa, Negara dan lain sebagainya. Akan tetapi, sekali saya ulangi bahwa esensi hidup dalam islam bukan tentang siapa saudara kita? tetapi bagaimana kita hidup dalam ikatan persaudaran itu. oleh karenanya, Marilah kita bersaudara dalam kebaikan dan perdamaian abadi.

surya saputra

Do'akan kerjamu, Kerjakan Do'amu..!!!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *