INDONESIA titik !!!!

Setelah terjadinya Peristiwa Bom Bursa Efek Jakarta pada tahun 2000 lalu, serta rentetan-rentetan pengeboman sadis lainnya, dianggap sebagai kemunculan kembali gerakan terorisme di Indonesia, yang sempat meredup semenjak terjadinya peristiwa pembajakan Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia pada tahun 1981 dan Bom Candi Borobudur pada tahun 1985 silam. Gerakan teror ini muncul bersamaan dengan kemajuan pesat teknologi mutakhir, yang mana, para pelaku teror justru banyak memanfaatkan teknologi-teknologi canggih tersebut untuk melakukan aksinya. Teknologi yang seharusnya bermanfaat bagi kehidupan manusia malah menjadi mala petaka yang menyisakan rasa takut, bencana sosial dan bahkan korban jiwa.

Melakukan tindakan teror berarti menimbulkan keresahan dengan cara melakukan tindakan kekerasan. Akan tetapi, tidak semua tindakan teror yang dilakukan oleh teroris berasal dari pijakan dan dasar yang sama. Setiap orang yang melakukan tindakan yang meresahkan dengan menempuh jalur kekerasan, punya alasan dan motif yang berbeda-beda. Jadi, motif-motif tindakan teror itu tidak satu, melainkan beragam, tergantung dari si teroris itu sendiri. Ada orang yang melakukan tindakan teror hanya untuk mencari sensasi atau sebagai pengalihan isu untuk tujuan-tujuan tertentu, ada juga yang hanya ingin menunjukan kekuatannya, dan ada pula yang menganggap tindakan teror sebagai tugas suci yang mau tidak mau harus mereka lakukan. Yang terahir inilah yang akan menjadi fokus kajian kita, yaitu, sebuah gerakan teror yang dilakukan oleh segelintir orang atas nama Tuhan dan Agama. Mereka menganggap bahwa, kematian mereka dalam aksi tersebut adalah bentuk ibadah yang paling mulia, yang hadiahnya tidak hanya berupa surga beserta fasilitas-fasilitas yang ada di sana, melainkan juga bidadari-bidadari cantik yang konon selalu dalam keadaan perawan.

Pada awalnya, saya selalu berpikir bahwa, satu-satunya penyebab mengapa orang melakukan tindakan teror atas nama agama adalah karena keterbatasan ekonomi atau karena mereka merasa tersisih dari pergaulan dunia modern seperti yang dinarasikan oleh Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul “Berperang Demi Tuhan (The Battle Of God)”. Akan tetapi, setelah saya membaca hasil wawancara Dr. H. Zulfi Mubaraq dengan para tersangka Bom Bali, yaitu; Amrozi, Ali Gufron dan Imam Samudra, saya menemukan ada masalah yang cukup pelik di sini. Lebih-lebih ketika para tersangka itu tidak merasa bersalah sama sekali dengan tindakan sadis yang mereka lakukan. Malah, dengan entengnya mereka meminta maaf kepada keluarga korban dan mengatakan akan mendo’akan mereka semua.

Mengapa hal itu bisa terjadi, apa penyebabnya?

Berdasarkan hasil wawancara yang sempat diabadikan oleh Dr. H. Zulfi Mubaraq, penyebab fundamental dari semua tindakan mereka adalah pemahaman mereka mengenai istilah Jihad dalam Agama Islam. Meskipun tidak menegasikan makna Jihad secara etimologi dan terminologi yaitu bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu, namun sebagaimana uraian Ali Gufron, jika kata Jihad direlasikan dengan Agama Islam, maka maknanya adalah Jihad Fii Sabilillaah, yaitu berperang melawan orang kafir yang tidak ada ikatan perjanjian serta memusuhi Islam, dengan tujuan menegakkan kalimat Allah.

Jadi menurut mereka, Jihad dalam Islam adalah perang. Pandangan ini didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang menyeru orang Islam untuk berperang melawan orang kafir, salah satunya adalah Surat An-Nisa Ayat 76. Tidak hanya itu, dia juga menyatakan (dengan nada mengejek) bahwa sepanjang hidupnya, Nabi yang kita ikuti dan imani itu melakukan haji hanya sekali, umrah hanya dua atau tiga kali, sementara perang sebanyak 77 kali. Selain itu, mereka juga mendasarkan tindakannya pada beberapa hadits Nabi, atsar para sahabat dan ijma’. Bahkan Amrozi merekomendasikan beberapa kitab yang perlu dibaca jika ingin memahami Jihad secara benar, di antaranya adalah: Kitab al-Jihad Sabiluna karya Syaikh ‘Abd al Baqi Ramdun, Kitab Al-Jihad karya Ibnu al-Mubaraq, dan kitab Fi Tarbiyah al-Jihadiyah al-Bina’ karya Syaikh al-Shahid.

Dari penjelasan masing-masing tersangka tentang makna Jihad, kita dapat menarik satu kesimpulan umum bahwa, Jihad yang mereka pahami selama ini identik dengan berperang melawan orang kafir yang memusuhi Islam. Bahkan bagi mereka, substansi Agama Islam adalah Jihad dalam arti seperti itu, guna menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Akan tetapi, terlepas dari cara pandang mereka yang seperti itu, diakui atau tidak, mereka tetap bagian dari Agama Islam. mengapa? Karena pandangan mereka itu mendapati sanadnya pada ajaran-ajaran Islam. Masalah ini adalah masalah perbedaan interpretasi, yang mana, nyaris sama tuanya dengan keberadaan Agama itu sendiri.

Bagaimana mengurai persoalan ini?

Kita boleh saja menolak pandangan mereka dengan menyodorkan pemahaman yang berbeda, misalnya, dengan mengadopsi pendirian Imam Ghazzaliyy yang tidak pernah membahas masalah Jihad dalam karyanya. Bahkan ketika Yerussalem, kota suci ketiga umat Islam, dikuasai oleh pasukan salib pada tahun 492 H/1098 M, sama sekali tidak memberikan posisi yang jelas mengenai masalah ini dan apalagi menyeru umat islam untuk berjihad.

Pendirian Imam Ghazzaliyy ini mengundang banyak kritik dari sarjana-sarjana Islam kontemporer, seperti: Dr. Zaki Mubaraq dan Abd Al Rahman Dimashqiyyah. Artinya, persoalan perbedaan pemahaman yang berujung pada peperangan dan banyak memakan korban jiwa bukanlah isu baru yang muncul pada abad ini. Kita tahu sejarah perang jamal, perang siffin dan tindakan-tindakan sadis lainnya, juga berasal dari masalah yang sama, yaitu perbedaan pemahaman.

Apakah sikap saya ini membenarkan tindakan teror atas nama agama?

Sebenarnya, secara pribadi, saya sangat mengutuk tindakan semacam itu. Bukan semata-mata karena mengancam keselamatan umat manusia, melainkan karena wajah Islam yang ramah penuh cinta kasih dan kedamaian itu akan disalah pahami oleh orang lain, lebih-lebih oleh mereka yang memang membenci Islam. pertanyaannya adalah, apakah kita akan menempuh cara yang sama dengan para pendahulu kita dalam menyelesaikan masalah ini? Padahal, kita tahu bahwa kita akan tetap menerima hasil yang sama jika menggunakan cara yang sama. Kita akan menerima hasil yang berbeda jika kita merubah cara. Oleh karenanya, sangat perlu untuk merubah cara kita menyelesaikan masalah ini.

Bagaimana caranya?

Jika selama ini kita selalu membawanya ke gelanggang perdebatan atau wacana, dengan tujuan untuk meluruskan pemahaman orang mengenai Jihad, yang tidak jarang pula memunculkan sentimen baru antar golongan. Maka pada titik inilah kita butuh pihak ketiga, yang dalam hal ini adalah Negara. Negara punya tanggung jawab serta wewenang penuh untuk menghentikan itu semua, berdasarkan ideologi dan Undang-undang. Oleh karenanya, Negara harus senantiasa hadir sebagai penengah, sebagai mediator dan fasilitator. Negara harus menjadi pioneer dalam mengembangkan dialog-dialog, terutama dialog antar iman (Interfaith Dialogue).

Mengapa hal ini perlu dilakukan?

Tentu saja karena timbulnya friksi dan gesekan dalam dunia keber-agama-an masyarakat, tidak lain karena sikap eksklusifitas yang ada pada masing-masing golongan, terutama para teroris. Mereka sudah merasa cukup dengan pemahaman yang mereka dapatkan dari kitab-kitab dan ajaran guru-guru mereka, yang mana kemudian hal itulah yang membentuk pemahaman ke-agama-an mereka.

Oleh karenanya, Negara harus mengawal dengan ketat keberadaan organisasai-organisasi yang mengajarkan kekerasan. Tidak ada cara lain untuk mengentaskan problem ini selain men-sweeping kelompok-kelompok menyimpang dari rel Negara. bukankah Negara kita punya Ideologi yang tidak membenarkan adanya tindakan kekerasan, apalagi kekerasan atas nama agama. Dalam posisi kita sebagai Negarawan, Mereka boleh memahami agama dengan cara apapun, tetapi jika itu berseberangan dengan Ideologi dan menimbulkan keresahan dalam masyarakat, sudah merupakan kewajiban Negara untuk memusnahkannya dari Indonesia, karena sejatinya mereka bukan bagian dari Indonesia.

surya saputra

Do'akan kerjamu, Kerjakan Do'amu..!!!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *