AKU TIDAK SEPERTI MEREKA !! (Part 3)

Malam memang tak pernah peduli, betapapun si kecil ketakutan akan gelapnya yang pekat, ia akan tetap hadir menyelingi hari. Misteri yang ada diantara keduanya, sejatinya tidak pernah benar-benar ada. Pikiran manusialah yang terlampau hebat memanipulasi dirinya, menciptakan realitas baru bernama imajinasi, kemudian itulah yang kita anggap sebagai kenyataan. Begitu juga dengan kisah kepulangan Nurhayati, dia tetap menjadi misteri bagi Risma dan Fitri.

Mereka berdua benar-benar merasa kehilangan, seakan-akan ada sesuatu yang berkurang dari hidupnya?
pagi minggu segera menjelang, bersama cahaya mentari yang kuning emas terpancar dari ufuk Timur, menambah suasana indah di hari libur. di teras-teras rumah, ditaman-taman indah dan di jalan-jalan seperti membasah oleh kemegahan yang tertumpah dari raut wajah anak-anak yang terlihat riang gembira bermain bersama keluarganya, mereka seakan mendapat kebahagian tiada tara, karena memang, enam hari lamanya, kebahagian mereka direnggut oleh kepentingan kerja orang tuanya.

sementara Fitri dan Risma berencana mengisi hari minggu mereka untuk pergi main-main ke Mall, sebagai obat atas rasa kecewa setelah kepulangan Nurhayati, seperti yang diceritakan kemarin sore oleh Buq Lali.

Tidak begitu lama setelah mentari mulai menggelincir, mereka sudah berada didepan bangunan besar yang bernama Mall, tempat orang-orang kota menipu dirinya.

Kamu tunggu sebentar ya Fit, saya mau melihat titipan buku yang saya Foto copy kemarin. “tidak begitu jauh berjalan dari tempat Fitri, Risma berhenti dan terdiam lama sekali. Fitri memperhatikan Risma yang mematung, pandangannya jauh kedepan, seakan menangkap kedalaman sasmita diujung sana. Fitri yang melihat gelagat tidak beres pada sahabatnya itu, segera berlari dan menghampiri Risma, ada apa Ris…? “Fitri membangunkan Risma dari terawangannya” Fit-Fit-Fit,,, sini Fit..!!! kamu lihat tidak, sales perempuan, yang memakai baju kuning itu,? ” Risma mencoba mengarahkan Fitri pada sesuatu” ooo cewek yang melayani orang di konter itu maksudmu? “Fitri mencoba mengkonfirmasi”
setelah mereka semakin dekat dan semakin dekat, Tiba-tiba Fitri mengenali perempuan muda itu. Itu kan Nurhayati, “Seru Fitri kepada Risma” tanpa menghiraukan Fitri, Risma berjalan menghampiri konter tempat Nurhayati bekerja, melihat pengunjung yang cukup ramai waktu itu, ahirnya mereka mundur dan pergi, akan tetapi, rupa-rupanya Nurhayati telah melihat dan mengenali mereka, Nurhayati pamitan pada koleganya sesama sales, dia keluar dan segera mengejar Fitri dan Risma.

Ris,,, Fit,,, “Nurhayati menyapa mereka dari belakang “ Risma dan Fitri yang tak menyangka Nurhayati membuntutinya, kaget, dan langsung bersama-sama membalikkan badan.

Mereka terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Risma seperti menampakkan kekecewaan diwajahnya, sementara Fitri berulang kali memandang setiap inci tubuh Nurhayati, mulai dari bawah sampai atas berulang-ulang, mungkin dia mengingat berita mesum dikoran itu dan mencoba melihat tanda-tandanya ditubuh Nurhayati.

Kenapa kalian pergi? “Nurhayati menyoroti mata sahabatnya” mereka tetap mematung seperti sebelumnya, sampai kemudian salah satu dari mereka angkat bicara.. Nur..!! saya mau tanya sama kamu…!!! malam mingggu seminggu yang lalu kamu kemana? “Fitri mencoba menginterogasi untuk memastikan, bahwa mahasisiwi mesum itu bukanlah Nurhayati orangnya” Mmmm… kemana ya,, “Nurhayati mencoba mengingatnya” Ooya, aku inget, malam itu aku diajak Rendi ke alun-alun Kota, untuk sekedar menemani dia minum kopi” mendengar cerita lugu dari Nurhayati, Risma dan Fitri seakan baru saja menelan bara api, sehingga mereka terdiam dengan raut wajah memerah. memangnya ada apa? “Nurhayati yang tidak tau apa-apa, heran dengan sikap sahabatnya”
Berapa kali kamu pergi bersama laki-laki itu? kali ini Fitri terlihat emosi, sepertinya dia sudah menyimpulkan bahwa tidak salah lagi, bahwa Inisial NHT di Koran itu memang benar Nurhayati, sahabat karibnya yang dikenal baik, sopan dan taat pada perintah dan larangan Agama.

Risma tiba-tiba menangis, tanpa sepatah katapun yang bisa dia ucapkan. Mungkin karena sifatnya yang ke-ibuan membuatnya tak kuasa menahan kebencian selain dengan tangisan.

Beda halnya dengan Fitri yang cukup berani dan vocal, Sudahlah Nur… ternyata apa yang kami pikirkan tentang kamu selama ini, salah besar. Kamu tidak lebih dari seorang perempuan munafik. Kamu membungkus sikap liarmu dengan prestasi dan sopan santun semu. Ternyata memang benar kata orang, bahwa orang yang berkerudung, berhijab, belum tentu menghijab dirinya dari dosa dan maksiat.

Fitri memuntahkan emosinya dihadapan Nurhayati, tak sedikitpun Fitri memberikan ruang bagi Nurhayati untuk membela Diri, meski berkali-kali Risma berusaha untuk menghentikannya,
Fitri yang sedari tadi mengendus karena tak kuasa menahan air mata, terus menghina Nurhayati melampiaskan rasa kekecewaannya.

Nurhayati yang merasa tak tau apa-apa, terisak-isak menahan tangisnya. Mereka tidak sadar, ternyata beberapa orang telah berkerumun membentuk lingkaran, memperhatikan mereka. Risma yang tidak terlalu emosional dalam menaggapi persoalan, mengajak Fitri dan Nurhayati untuk mencari tempat duduk yang lebih sepi.

Ketiga sahabat itu kini sama-sama terdiam, sembari tangan-tangannya sibuk mengusap tiap bulir air mata yang menetes membahasi pipi mereka.
Nur..!!! “kini giliran Risma yang berbicara” sebenarnya, Kami tidak menuduhmu. Waktu itu, saya dan Fitri heran, kenapa kamu tidak pernah masuk, padahal biasanya, kamu selalu stand by menunggu kita dikantin mboq Marni. Pada mulanya kami pikir kamu sakit, bahkan kami telah berjanji akan menjengukmu besoknya. Dan kami memang benar-benar mendatangi kos mu. Tapi kata ibuq Lali, kamu sudah pulang ke NTB. Ooo… jadi, kalian marah sama saya gara-gara saya tidak mengabari kalian, kalo saya akan pindah. “Nurhayati memotong pembicaraan Risma” saya mohon maaf ya, ada sesuatu yang tidak kalian tahu sebenarnya selama ini. “Tutur Nurhayati merayu teman-temannya” mendengar hal itu, Fitri langsung berdiri hendak pergi. Fiitt,,, tunggu Fit. “Risma mencoba menahan Fitri” Sudah lah Ris, saya sudah muak berteman dengan pelacur seperti dia, sekarang saya mau pergi, kamu urus saja pelacur itu, “begitu sumpah serapah Fitri kepada Nurhayati, lalu pergi jauh entah kemana.

Seakan petir baru saja bertengger dihati Nurhayati mendengar pernyataan Fitri. Nurhayati terdiam, air matanya mengalir deras, entah apa maksud Fitri itu, dia masih bingung. Riss,, maksud Fitri itu apa sih, kenapa dia bilang saya pelacur. “Sambil sesenggukan Nurhayati menarik-narik tangan Risma” Risma yang berusaha untuk menenangkan diri, kemudian mulai bercerita.

“sebelum kami tau bahwa kamu pulang, Yuli mendatangi kami, dengan membawa berita mesum seorang mahasisiwi kampus kita, inisialnya NHT. “Tutur Risma kepada Nurhayati” Jadi, kalian langsung menuduhku, “Sergah Nurhayati memotong” Tunggu dulu Nur, “Risma mencoba melanjutkan” sebenarnya kami tidak menuduhmu. Kami mengenalmu cukup lama, kami tahu kamu adalah wanita baik-baik, tapi setelah mendengar ceritamu tadi, bahwa pada malam kejadian kasus itu, kamu bilang, kamu pergi bersama teman cowokmu Rendi. Dan kebetulan, pasangan cowok dikasus mesum itu, inisialnya RDI. Jadi siapa lagi kalo bukan kamu dan Rendi. “tuduh Risma pada Nurhayati”
Yaa ampun Risma, sumpah Ris, saya tidak pernah melakukan tindakan bodoh dan hina itu, malam itu memang benar saya pergi sama Rendi, tapi justru malam itu adalah malam terahir saya sama dia, karena dia ngotot ngajak saya nginap. Tapi saya menolak dan pulang sendiri. “jelas Nurhayati membela diri” terus kenapa kamu tiba-tiba pergi dari kosmu, dan bilang sama buq Lali kamu akan pulang, dan hand phone mu juga tidak aktif, bukankah itu artinya kamu sengaja menghilang. “risma mencoba mengejar pembelaan Nurhayati” Iya, itu memang sengaja saya lakukan, tapi bukan karena saya terkena kasus seperti yang kalian kira. Saya melakukan itu supaya Rendi tidak mencari saya lagi. karena selama ini dia terus-terusan mengejar saya. “jelas Nurhayati lagi” Terus kalau bukan kamu, siapa wanita yang berinisial NHT di Koran itu. “Risma kembali melayangkan pertanyaan kepada Nurhayati” masalah itu saya kurang tau Ris, ya sudah, besok kita temui Fitri, lalu kita bersama-sama mencari informasinya di kampus. Ris,, percayalah sama saya, bukankah dulu kita selalu berjanji untuk saling percaya dan mendukung, “rayu Nurhayati kepada Risma sembari menggenggam tangannya” Ya sudah Ris, sepertinya malam akan segera tiba, mungkin sebaiknya kamu pulang, “begitu Nurhayati mengahiri pertemuan yang mengharukan itu”
****

surya saputra

Do'akan kerjamu, Kerjakan Do'amu..!!!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *