AKU TIDAK SEPERTI MEREKA !! (Part 2)

Kelas baru saja selesai, sementara tokek-tokek di dinding-dinding kampus mulai keluar dari sarangnya mencari mangsa, mengingat senja sudah siaga menjemput malam yang datang tiba-tiba. Senja adalah pertanda bahwa pesta cahaya akan segera dimulai. malam memang penuh kebisuan dan kegelapan, oleh karenanya cahaya lebih banyak dibutuhkan. Akan tetapi, bukankah cinta selalu menemukan caranya bertemu rindu? Melebur diri dalam romantisme yang abadi, yang tak terhalang masa dan musim, tempat dan cuaca. Cinta selalu menemukan caranya membasahi hati yang kering, menerangi mata yang Buta dan perasaan gelap pekat tanpa cahaya. Karena memang kegelapan ada karena ketiadaan cahaya. mungkin karena cinta itu halus oleh karenanya ia misterius, se-misterius Nurhayati dan kasus mesum yang dibawa Yuli.

baca:aku-tidak-seperti-mereka-part-1

Pagi-pagi sekali Risma sudah terbangun dari tidurnya, dengan sekonyong-konyong dia meraih telepon genggam yang ada diatas meja disamping tempat dia tidur. Ternyata waktu terasa begitu cepat berlalu gumamnya dalam hati. Dia berdiri lalu pergi kekamar mandi. Sementara dari arah dapur terdengar suara gerasak-gerusuk panci yang berpautan dengan besi, persis seperti suara pedang Arya Kamandanu ketika berpapasan dengan tongkat ajaibnya si Tong Bajil.

Risma yang masih menyangsikan keadaan Nurhayati sahabatnya. Tanpa menunggu waktu dia mencoba menghubunginya. Mengetahui nomor ponsel Nurhayati tidak aktif, Risma semakin resah. Lebih-lebih ketika mengingat informasi dikoran kemarin. Risma terus bergulat dengan feelingnya sendiri yang selalu mengarahkannya untuk mengatakan bahwa Nurhayatilah mahasiswi yang dimaksud di koran itu. Sesekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya, sebagai pertanda bahwa dia tidak terima jika tersangka mesum itu adalah sahabatnya. Melihat tingkah Risma yang geleng-geleng kepala sendiri dan sesekali berkata Tidak pada dirinya, “Buk maryam –(ibunya Risma)- segera mendatangi anaknya dan bertanya, “Ada apa Nak..??? “kenapa kamu manggut-manggut sendiri? “Tanya ibu Maryam pada Risma ingin tahu” “Eehhh Emak..!!! “Risma mencoba menenangkan diri” “ora mak..! aku ora opo-opo…!!! “kilahnya lembut” “Yo wes, kalo Ra po po..!!! “please you breakfeast, mumpung masih anget, “Goda ibu Maryam pada Risma dengan mencampur bahasa Jawa dengan bahasa Ingris” Mendengar guyonan ibunya, Risma tertawa lepas sampai gaungnya membangunkan Nino ponakannya, yang telah beberapa hari dibawa menginap oleh ibunya Mirna kakak Risma, anak kedua dari ibu Maryam. Tentu saja Mirna yang lulusan Pondok Pesantren Salaf Kota Selong angkat bicara dan menegur Risma dengan petuah bijak ala Filsuf. “””Ris….!!! Jaga aurat Ris,,,!!!, Tertawa kok kayak So’imah. Tidak baik, “Tutur Mirna lembut penuh kasih sayang. “Tuuu kan, aku bilang juga apa, “Tebak Risma kesal. Emak sih bikin guyon. “Kata Risma menyalahkan Buq Maryam yang dari Tadi kelihatan menutup mulutnya dengan Tangan.
****
Keriangan pagi yang indah dan membasah segera hilang pergi berganti siang hari. Hawa dingin yang tadinya sejuk mendamaikan telah berubah menjadi panas yang menggelisahkan, persis seperti kehawatiran Risma pada sahabat karibnya Nurhayati.
baca:bosan
Siang itu sekitar Ba’da Dzuhur, Fitri baru saja tiba dirumah Risma. Setelah beberapa menit yang lalu mereka sepakat untuk pergi ke kontrakan Nurhayati.
Sebenarnya Nurhayati adalah seorang perantau di kota Jakarta.

Dia pertama kali menginjakkan kakinya dikota pendidikan ini sekitar tiga Tahun yang lalu, bersama sepupunya Rian yang sekarang ada dipenjara karena terjerat kasus Narkoba.

Nurhayati adalah seorang perempuan Tenggara yang berparas Ayu, langsing dan Sopan, tentu saja karena orang-orang Tenggara berbudaya dan bertata krama. Oleh karenanya, Risma dan Fitri yang tahu betul bagaimana keseharian Nurhayati dan anak-anak Tenggara lainnya, seperti tidak terima jika Nurhayati adalah mahasisiwi mesum yang dikabarkan di Koran itu.

Tidak begitu lama diperjalanan, ahirnya Fitri dan Risma berhenti dan turun dari motor matic yang dipakainya. Dari nama jalan itu terpampang jelas bahwa mereka sedang berada di Jln. Sahabat yang tidak punya nomor. Entahlah, entah kenapa Jalan itu tidak punya nomor, apakah faktor nama jalannya. Ya mungkin saja, karena sahabat memang tidak harus di pilah-pilih, tidak ada sahabat yang nomor satu atau dua dan seterusnya, sahabat ya sahabat.

Risma yang tidak sabar mengetahui kabar sahabatnya, segera menuju gerbang besar yang didalamnya terdapat rumah besar dan bertingkat seperti Rusun (Rumah Susun).
“Permisi buq, saya mau Tanya, apa Nurhayati-nya ada? “Fitri bertanya kepada seorang perempuan paruh baya” sepertinya, wanita itu adalah Ketua disana. Karena memang, tempat itu adalah sebuah asrama yang dihuni oleh para perantau dari luar daerah. “Nurhayati ya..??? “kata perempuan itu menjawab pertanyaan Fitri, sembari memicingkan mata seakan berpikir” Ooo… yang Dari NTB itu ya..??? yang di kamar Nomor 5 lantai 3..!!! Iya betul sekali..!!! ”Risma membenarkannya” kalian ini apanya ya..??? “Perempuan itu bertanya lagi pada Risma dan Fitri” kenalkan,, “Fitri mengulurkan tangannya memperkenalkan diri” Nama saya Fitri, dan ini teman saya Risma, kami teman kuliyahnya Nurhayati. “Jelas Fitri padanya” Ooo… Yayaya, tapi koq Tumben saya liat kalian kesini. “Kata perempuan itu pada Risma dan Fitri” Eee Buq,,, yang harus ngomong begitu sebenarnya kami buuq, Koq Tumben saya liat ibuq disini, kami hampir setiap bulan mampir kesini. Bikin Tugas disini, bikin acara disini, bahkan kami kenal baik dengan Pak Aris dan Istrinya, pedagang Nasi goreng didepan itu. heheh perempuan itu terekekeh-kekeh mengingat ke pikunannya, ternyata dia baru ingat kalau dia baru seminggu disana. Walah-walah iya-iya, maaf dik, saya memang pelupa. Bahkan, tubuh saya gendut begini bukan karena saya suka makan, tapi saya sering lupa kalau saya sudah makan. Hahahha “mereka bertiga tertawa renyah bersama-sama” Gimana buq? Nurhayatinya Adakan? “Risma kemudian membuka obrolan kembali” Kalian tidak dikabari ya kalau Neng Nurhayati Sudah Pulang Tiga hari yang lalu. “Cerita Buk Lali, jujur apa adanya” Ooo. Gitu ya buq, kalo begitu terima kasih ya, “lanjut Fitri berpamitan”
Mendengar kepulangan Nurhayati dari buq Lali, Risma dan Fitri bukan malah merasa lega, justru rasa penasaran mereka semakin memuncak. Sepanjang jalan mereka terdiam tanpa saling tegur sapa, meskipun berada diatas motor yang sama. Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas, kenyataan yang baru saja mereka terima dari buq Lali benar-benar tak bisa masuk diakalnya. Betapa tidak, sahabat karib yang sudah dianggap saudara sendiri, tiba-tiba pulang tanpa tahu alasannya. Apakah mungkin, gara-gara kasus mesum itu, Nurhayati kemudian dikeluarkan dari kampus. Karena dia malu, ahirnya dia pulang tanpa memberi kabar kepada sahabat-sahabatnya? Mungkin saja. soalnya, jika Nurhayati mengabari teman-temannya bahwa dia akan pulang kampung, tentu saja Fitri dan Risma harus tahu alasan pastinya, kenapa dia mau pulang. Kemungkinan besar, dia tidak menemukan alasan yang tepat, sehingga dia lebih memilih pulang secara diam-diam.
****

surya saputra

Do'akan kerjamu, Kerjakan Do'amu..!!!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *